
Ada kalanya orang tua tanpa sadar begitu cepat mengatakan, “Biar Ayah atau Bunda saja yang kerjakan,” daripada memberi kesempatan anak untuk mencoba sendiri. Alasannya sederhana, agar lebih cepat, lebih rapi, atau karena tidak ingin melihat anak kesulitan. Padahal, di balik momen-momen kecil seperti memakai sepatu sendiri, menuangkan air ke dalam gelas, atau membereskan mainan, anak sedang belajar mengenal satu hal yang sangat penting, yaitu keyakinan bahwa dirinya mampu.
Kepercayaan diri bukanlah sifat yang dimiliki sejak lahir. Rasa percaya diri tumbuh melalui pengalaman yang dialami anak setiap hari, terutama ketika ia diberi kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, lalu berhasil bangkit kembali. Sebaliknya, ketika anak terlalu sering dikritik, dibandingkan, atau tidak pernah diberi ruang untuk mencoba, ia dapat mulai meragukan kemampuannya sendiri.
Penting dipahami bahwa anak yang percaya diri bukan berarti tidak pernah takut atau selalu berhasil. Anak yang percaya diri tetap bisa merasa gugup, malu, atau gagal. Bedanya, ia percaya bahwa dirinya mampu belajar dan mencoba kembali. Lalu, bagaimana orang tua dapat membantu membangun kepercayaan diri anak?
1. Berikan kesempatan anak mencoba sendiri
Keinginan membantu anak adalah hal yang wajar. Namun, jika hampir semua hal selalu dilakukan oleh orang tua, anak kehilangan kesempatan untuk merasakan bahwa dirinya mampu. Biarkan anak mencoba aktivitas yang sesuai dengan usianya, seperti memakai pakaian sendiri, merapikan mainan, membawa tas kecil, atau memilih buku yang ingin dibaca. Meskipun hasilnya belum sempurna, pengalaman berhasil menyelesaikan sesuatu akan menjadi bekal penting bagi tumbuhnya rasa percaya diri.
2. Apresiasi usaha, bukan hanya hasil
Pujian memang dapat membuat anak senang. Namun, akan lebih bermakna jika orang tua juga menghargai proses yang telah dilalui anak. Kalimat seperti,“Ayah lihat kamu terus berusaha sampai selesai.”atau“ Bunda bangga karena kamu mau mencoba lagi.” Secara tidak langsung membantu anak memahami bahwa usaha memiliki nilai, bukan hanya hasil akhirnya. Dengan begitu, anak akan lebih berani mencoba hal-hal baru tanpa terlalu takut melakukan kesalahan.
3. Hindari membandingkan anak dengan orang lain
Kalimat seperti,“Temanmu saja sudah berani.”atau“Kakak dulu seusiamu sudah bisa.”mungkin dimaksudkan sebagai penyemangat. Namun, bagi anak, perbandingan justru dapat membuatnya merasa dirinya kurang baik dibandingkan orang lain. Setiap anak memiliki proses belajar dan perkembangan yang berbeda. Fokuslah pada perkembangan anak dibandingkan dirinya sendiri di masa lalu, bukan dibandingkan dengan orang lain.
4. Jadikan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar
Tidak ada anak yang langsung bisa melakukan semuanya dengan sempurna. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua dapat membantu dengan mengajaknya mencari solusi, bukan langsung menyalahkan atau mengambil alih. Dengan cara ini, anak belajar bahwa gagal bukan berarti dirinya tidak mampu.
Dalam salah satu sesi konsultasi di Terapeutik, orang tua datang dengan kekhawatiran karena anaknya yang berusia enam tahun tampak selalu ragu terhadap dirinya sendiri. Setiap diminta mencoba permainan baru, menjawab pertanyaan di kelas, atau mengikuti kegiatan bersama teman, anak lebih dulu mengatakan, “Aku nggak bisa.” Bahkan sebelum mencoba, ia sudah memilih mundur karena takut melakukan kesalahan.
Setelah dilakukan asesmen, psikolog tidak menemukan hambatan pada kemampuan belajar maupun perkembangan kognitif anak. Yang lebih menonjol adalah rendahnya rasa percaya diri dan kecenderungan anak menghindari situasi yang menurutnya berisiko gagal. Berdasarkan hasil tersebut, psikolog merekomendasikan Behavior Therapy untuk membantu anak membangun keberanian mencoba, meningkatkan keyakinan terhadap kemampuannya, serta mengurangi perilaku menghindar.
Selama proses terapi, anak diajak menghadapi tantangan secara bertahap melalui aktivitas yang disesuaikan dengan kemampuannya. Di saat yang sama, psikolog juga memberikan psikoedukasi kepada orang tua mengenai pentingnya memberikan kesempatan anak mencoba sendiri, mengurangi kebiasaan terlalu cepat membantu, serta lebih sering memberikan apresiasi terhadap usaha dibandingkan hasil akhirnya.
Pada sesi report setelah terapi kelima, orang tua menceritakan perubahan yang mulai mereka rasakan di rumah. Anak yang sebelumnya hampir selalu berkata, “Aku nggak bisa,” kini mulai mengatakan, “Aku mau coba dulu.” Meskipun sesekali masih membutuhkan dukungan, ia sudah lebih berani mencoba permainan baru, mengerjakan tugas sendiri, bahkan mulai berani menjawab pertanyaan guru di kelas.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan diri tidak tumbuh dalam semalam. Dengan pendampingan yang tepat, latihan yang konsisten, dan dukungan dari lingkungan terdekat, anak dapat belajar mempercayai kemampuannya sedikit demi sedikit. Lalu, apa yang dapat Ayah Bunda mulai lakukan di rumah?
- Berikan kesempatan anak menyelesaikan aktivitas sesuai usianya secara mandiri.
- Dengarkan pendapat anak tanpa terburu-buru mengoreksi atau mengambil alih.
- Berikan apresiasi terhadap usaha yang dilakukan anak, bukan hanya hasil akhirnya.
- Hindari membandingkan anak dengan saudara maupun teman sebayanya.
- Dampingi anak ketika mengalami kegagalan dan bantu ia melihat bahwa setiap
kesalahan adalah bagian dari proses belajar.
Kepercayaan diri anak tidak dibangun melalui satu pujian besar atau satu keberhasilan saja. Ia tumbuh dari pengalaman pengalaman kecil yang terus berulang setiap hari, ketika anak merasa dipercaya, didukung, dan diterima apa adanya. Saat orang tua memberikan ruang bagi anak untuk mencoba, bangkit, dan berkembang, saat itulah fondasi kepercayaan diri mulai terbentuk dan akan menjadi bekal berharga bagi kehidupannya di masa depan.
Sumber Referensi
Organisasi Profesi
- American Psychological Association (APA).
- American Academy of Pediatrics (AAP).
- Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia).
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Jurnal Ilmiah Pendukung
- Orth, U., & Robins, R. W. (2022). The Development of Self-Esteem. Current
Directions in Psychological Science, 31(4), 328–334. - Ginsburg, K. R. (2007). The Importance of Play in Promoting Healthy Child
Development and Maintaining Strong Parent-Child Bonds. Pediatrics, 119(1), 182–
191.
