
“Kenapa sih cuma suara blender saja sampai menangis?”. Seorang ibu menceritakan bahwa setiap pagi anaknya selalu menutup telinga ketika blender dinyalakan. Saat diajak ke pusat perbelanjaan, anak tampak gelisah karena keramaian. Memakai baju baru pun bisa berakhir dengan tangisan hanya karena ada label kecil di bagian belakang kerah. Keluarga mulai menganggap anak terlalu manja, sementara guru di sekolah mengatakan ia sulit beradaptasi dengan lingkungan.
Yang membuat orang tua semakin bingung, perilaku seperti ini sering kali tidak terjadi setiap saat. Di rumah anak terlihat baik-baik saja, tetapi di tempat tertentu ia bisa tiba-tiba marah, menangis, atau menolak melakukan aktivitas sederhana. Lalu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Pada sebagian anak, masalahnya bukan terletak pada pendengaran yang terlalu tajam atau kulit yang terlalu sensitif. Yang menjadi tantangan justru adalah cara otak menerima, mengolah, dan merespons berbagai rangsangan dari lingkungan. Kondisi ini dikenal sebagai gangguan pemrosesan sensori (sensory processing difficulties).
Bayangkan otak seperti pusat pengatur lalu lintas. Setiap detik, informasi dari suara, sentuhan, cahaya, gerakan, hingga posisi tubuh datang bersamaan. Pada kebanyakan anak, informasi tersebut dapat disaring sehingga mereka mampu memilih mana yang perlu diperhatikan dan mana yang bisa diabaikan. Namun, pada anak yang mengalami gangguan pemrosesan sensori, proses penyaringan ini tidak selalu berjalan optimal. Akibatnya, suara yang bagi orang lain terdengar biasa saja dapat terasa sangat mengganggu, atau sebaliknya, anak justru terus mencari rangsangan karena merasa belum cukup.
Penting dipahami bahwa tidak semua anak yang sensitif terhadap suara atau tekstur mengalami gangguan pemrosesan sensori. Setiap anak memiliki preferensi masing-masing. Yang perlu menjadi perhatian adalah ketika respons tersebut muncul secara konsisten, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuat anak kesulitan beradaptasi di rumah maupun di sekolah. Beberapa perilaku yang sering dijumpai antara lain:
- Menutup telinga atau menangis saat mendengar suara blender, vacuum cleaner, bel
- sekolah, atau keramaian.
- Menolak memakai pakaian tertentu karena jahitan, label baju, atau teksturnya terasa
sangat mengganggu. - Hanya mau makan makanan dengan tekstur tertentu, bukan karena pilih-pilih rasa,
tetapi karena merasa tidak nyaman saat mengunyah. - Menghindari sentuhan ringan, namun justru senang dipeluk erat atau mencari tekanan
pada tubuhnya. - Sangat aktif bergerak, sering melompat, berputar, atau memanjat tanpa terlihat lelah.
- Sulit berkonsentrasi ketika lingkungan terlalu ramai karena otaknya harus bekerja lebih
keras memproses berbagai rangsangan yang datang bersamaan.
Perilaku-perilaku tersebut sering disalahartikan sebagai anak yang manja, keras kepala atau kurang disiplin. Padahal, yang dialami anak bisa jadi adalah rasa tidak nyaman yang benar- benar ia rasakan.
Gangguan pemrosesan sensori juga dapat memengaruhi berbagai aktivitas sehari-hari. Anak mungkin menolak memakai seragam sekolah karena tidak nyaman dengan tekstur kainnya, sulit mengikuti kegiatan di kelas yang ramai, enggan mencoba makanan baru karena teksturnya terasa mengganggu, atau mudah tantrum ketika berada di lingkungan yang terlalu bising. Jika tidak dipahami, kondisi ini dapat memengaruhi rasa percaya diri anak, hubungan dengan teman sebaya, bahkan proses belajarnya.
Salah satu kasus yang sering dijumpai praktisi di Terapeutik adalah seorang anak usia 5 tahun yang hampir setiap pagi menangis sebelum berangkat ke sekolah. Orang tua mengira anak hanya sedang mencari alasan untuk tidak belajar, sementara guru melihatnya sebagai anak yang sulit diatur karena selalu menutup telinga saat kegiatan bersama dimulai. Setelah dilakukan evaluasi oleh Okupasi Terapis, diketahui bahwa anak memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap suara keras. Bukan sekolah yang ia tolak, melainkan lingkungan yang terlalu bising membuatnya merasa kewalahan. Melalui program terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak, disertai strategi yang diterapkan di rumah dan sekolah, anak secara bertahap mampu beradaptasi lebih baik terhadap lingkungan sekitarnya.
Kisah tersebut mengingatkan kita bahwa perilaku anak sering kali merupakan cara mereka menyampaikan sesuatu yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. Memahami penyebabnya jauh lebih bermanfaat daripada terburu-buru memberi label. Lalu, kapan Ayah Bunda sebaiknya mempertimbangkan evaluasi ke Okupasi Terapis? Beberapa kondisi berikut dapat menjadi pertimbangan:
- Respons terhadap suara, sentuhan, tekstur, atau gerakan tampak jauh lebih ekstrem
dibandingkan anak seusianya. - Kesulitan sensori mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti makan, berpakaian,
bermain, belajar, atau bersosialisasi. - Perilaku tersebut berlangsung secara konsisten dalam berbagai situasi, bukan hanya
sesekali. - Orang tua atau guru merasa perilaku anak semakin menghambat proses belajar maupun
interaksi sosialnya.
Melalui evaluasi yang komprehensif, Okupasi Terapis akan membantu mengidentifikasi pola pemrosesan sensori anak sekaligus menyusun program intervensi yang sesuai dengan kebutuhannya. Pada beberapa kondisi, Okupasi Terapis juga dapat berkolaborasi dengan psikolog, terapis wicara, maupun fisioterapis apabila ditemukan kebutuhan perkembangan pada area lain. Tujuan terapi bukan mengubah kepribadian anak, melainkan membantu anak beradaptasi sehingga dapat belajar, bermain, dan menjalani aktivitas sehari- hari dengan lebih nyaman.
Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam merasakan dunia di sekitarnya. Ada yang mudah menyesuaikan diri dengan berbagai rangsangan, ada pula yang membutuhkan dukungan lebih agar dapat merasa nyaman di lingkungannya. Ketika orang dewasa mulai memahami cara anak memproses dunia, kita tidak lagi hanya melihat perilakunya, tetapi juga memahami kebutuhan yang ada di balik perilaku tersebut. Jika Ayah Bunda memiliki kekhawatiran mengenai respons anak terhadap suara, sentuhan, atau tekstur tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional agar kebutuhan si Kecil dapat dikenali dan didampingi sejak dini.
Sumber Referensi
Organisasi Profesi
- American Occupational Therapy Association (AOTA). Understanding Sensory
Integration and Sensory Processing. - STAR Institute for Sensory Processing.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Jurnal Ilmiah Pendukung
- Camarata, S., Miller, L. J., & Wallace, M. T. (2020). Evaluating Sensory
Integration/Sensory Processing Treatment: Issues and Analysis. Frontiers in
Integrative Neuroscience, 14, 556660. - Schoen, S. A., Lane, S. J., Mailloux, Z., May-Benson, T., Parham, L. D., Smith
Roley, S., & Schaaf, R. C. (2019). A Systematic Review of Ayres Sensory Integration
Intervention for Children With Autism. Autism Research, 12(1), 6–19.
