
“Anak saya sebaiknya dibawa ke psikolog atau terapis ya?” Pertanyaan sederhana ini ternyata
sering membuat banyak orang tua mondar-mandir bingung, apalagi kalau belum tahu persis bedanya.
Padahal, memahami peran masing-masing profesi adalah langkah pertama supaya si Kecil mendapat
penanganan yang benar-benar tepat sasaran, bukan sekadar coba-coba.
Tumbuh kembang anak melibatkan banyak aspek, sehingga dalam praktiknya bisa saja
melibatkan berbagai pihak, mulai dari dokter anak, guru pendamping khusus, hingga beberapa tenaga
profesi terapi. Empat di antaranya, Psikolog, Okupasi Terapis, Terapis Wicara, dan Fisioterapis, adalah
profesi yang tersedia di Terapeutik. Keempatnya sering bekerja beriringan, tapi masing-masing punya
fokus dan pendekatan tersendiri. Mengenal perannya membantu Ayah Bunda memahami gambaran
besar proses tumbuh kembang anak, sekaligus tidak salah arah saat mencari bantuan.
Psikolog biasanya menjadi yang pertama dituju ketika orang tua melihat ada yang “berbeda” dari
sisi kognitif, emosi, perilaku, atau interaksi sosial anak. Lewat asesmen psikologis, psikolog membantu
memahami mengapa anak berperilaku tertentu, lalu memberikan intervensi seperti terapi perilaku
atau konseling keluarga. Kalau yang jadi keluhan adalah kemampuan anak melakukan aktivitas sehari-
hari, misalnya makan sendiri, memakai baju, menulis, atau bermain, peran ini biasanya beralih ke
Okupasi Terapis, yang bekerja lewat penguatan sensorik, motorik halus, dan kemandirian fungsional
anak. Sementara itu, jika yang jadi perhatian adalah kemampuan berkomunikasi, mulai dari bicara,
bahasa, pemahaman, hingga kesulitan makan atau menelan pada beberapa kasus, Terapis Wicara
adalah profesi yang paling relevan mendampingi. Dan ketika yang terdampak justru kemampuan gerak
dan fisik anak, seperti kekuatan otot, keseimbangan, atau koordinasi motorik kasar untuk duduk,
berjalan, dan berlari, di sinilah peran Fisioterapis paling dibutuhkan.
Salah satu kasus yang sering dijumpai praktisi di Terapeutik, seorang anak usia 4 tahun dibawa
orang tuanya ke psikolog karena dianggap “malas” dan “manja”. Anak selalu menolak memakai baju
sendiri, sering menumpahkan makanan saat makan sendiri, dan mudah frustrasi setiap kali diminta
melakukan sesuatu dengan tangannya. Setelah menjalani asesmen, psikolog menemukan bahwa yang
terjadi bukan soal kemauan atau sikap manja, melainkan anak memang kesulitan mengontrol gerakan
motorik halusnya. Dari situ, anak direkomendasikan untuk mendapat pendampingan Okupasi Terapis,
sementara psikolog tetap mendampingi dari sisi kepercayaan diri anak yang sempat terdampak karena
sering dimarahi akibat dianggap malas. Kasus ini menunjukkan bahwa satu anak bisa saja
membutuhkan lebih dari satu profesi sekaligus, dan asesmen awal yang tepat adalah kunci supaya
penanganan tidak salah arah.
Lalu, bagaimana sebaiknya Ayah Bunda memulai? Langkah paling sederhana adalah mengamati
area mana yang paling terdampak, apakah dari sisi komunikasi, gerak, kemandirian, atau emosi dan
perilaku anak, tanpa buru-buru menyimpulkan sendiri. Dari pengamatan itu, jangan ragu memulai dari
konsultasi awal untuk asesmen, karena menebak-nebak sendiri justru bisa membuat penanganan
salah arah. Penting juga dipahami bahwa satu anak bisa saja membutuhkan lebih dari satu profesi
sekaligus, seperti pada kasus di atas. Pada akhirnya, proses pemetaan kebutuhan ini paling baik
dipercayakan pada tim profesional yang memang berkompeten di bidangnya.
Tidak perlu bingung menentukan sendiri harus mulai dari mana. Mengenali peran tiap profesi
adalah langkah awal, dan asesmen dari tenaga profesional yang tepat akan membantu memetakan
kebutuhan si Kecil secara jelas. Kalau Ayah Bunda sedang mencari tahu langkah yang paling sesuai
untuk si Kecil, konsultasi awal ke layanan tumbuh kembang anak terdekat bisa jadi titik mula yang
baik.
Sumber Referensi :
Organisasi Profesi
Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) – https://www.ipkindonesia.or.id
Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOTI) – https://ioti.or.id
Kementerian Kesehatan RI – https://kemkes.go.id
Jurnal Ilmiah Pendukung
Eddy, L.H., dkk. (2026). “The system is a bit broken, a qualitative exploration of barriers in the
pathway for diagnosing Developmental Coordination Disorder.” PLOS One, 21(3).
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0343972
Gao, J., dkk. (2025). “Motor-Based Interventions in Children with Developmental Coordination
Disorder, a Systematic Review and Meta-analysis of Randomised Controlled Trials.” Sports Medicine Open, 11(59). https://doi.org/10.1186/s40798-025-00833-w
