
Banyak orang tua yang mulai cemas ketika melihat anak seusianya sudah bisa duduk, berdiri, atau berjalan, sementara anaknya masih membutuhkan bantuan.“Kok anak saya belum bisa seperti anak yang lain, ya?” Kekhawatiran seperti ini sangat wajar. Perkembangan motorik memang menjadi salah satu hal yang mudah diamati orang tua. Kita bisa melihat ketika anak mulai berguling, duduk, merangkak, berdiri, hingga akhirnya mengambil langkah pertamanya.
Namun, perkembangan anak tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang persis sama. Seorang anak mungkin lebih cepat duduk, sementara anak lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk siap berdiri. Karena itu, melihat satu pencapaian saja belum cukup untuk menentukan apakah perkembangan motorik seorang anak mengalami keterlambatan. Perlu orang tua ingat yang lebih penting adalah melihat keseluruhan perkembangan, pola kemampuan anak, dan bagaimana kemampuannya berkembang dari waktu ke waktu.
Perkembangan Motorik Terjadi Secara Bertahap
Kemampuan motorik kasar berkembang melalui berbagai tahapan. Anak secara bertahap belajar mengendalikan tubuhnya untuk melakukan gerakan yang semakin kompleks. Beberapa kemampuan yang biasanya diamati antara lain:
- Duduk tanpa bantuan, anak mulai memiliki kontrol tubuh yang lebih baik sehingga mampu mempertahankan posisi duduk secara mandiri.
- Merangkak, anak mulai menggunakan tangan dan kaki untuk bergerak dan mengeksplorasi lingkungan. Namun, penting diketahui bahwa tidak semua anak harus melalui pola merangkak dengan tangan dan lutut. Dalam studi perkembangan motorik World Health Organization (WHO), sebagian anak mencapai milestone motorik lainnya tanpa menunjukkan pola merangkak tersebut.
- Berdiri dengan bantuan, anak mulai menarik atau menopang tubuhnya menggunakan benda di sekitar untuk mencapai posisi berdiri.
- Berjalan dengan bantuan, anak mulai berpindah tempat sambil berpegangan atau mendapatkan dukungan.
- Berdiri dan berjalan mandiri, seiring berkembangnya keseimbangan, kekuatan, dan kontrol tubuh, anak mulai mampu berdiri kemudian berjalan tanpa bantuan.
Kemampuan-kemampuan tersebut dapat menjadi gambaran bagi orang tua untuk mengikuti perkembangan motorik anak. Namun, urutan dan waktu pencapaiannya tidak selalu persis sama pada setiap anak. Ada anak yang lebih cepat menguasai kemampuan tertentu, sementara anak lain membutuhkan waktu lebih panjang atau memiliki pola perkembangan yang sedikit berbeda. Karena itu, perkembangan motorik sebaiknya tidak dilihat sebagai daftar target yang harus dicapai pada usia tertentu. World Health Organization (WHO) menggunakan konsep windows of achievement, yaitu rentang waktu ketika berbagai milestone motorik dapat dicapai, bukan satu usia tunggal yang harus dipenuhi semua anak.
Jadi, Kalau Anak Belum Berjalan, Apakah Berarti Terlambat?
Belum tentu, salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi adalah menganggap bahwa setiap anak harus mencapai milestone tepat pada usia yang sama. Padahal, perkembangan memiliki variasi yang cukup luas. Dalam data WHO, misalnya, window of achievement untuk berjalan mandiri berada sekitar usia 8,2 hingga 17,6 bulan. Artinya, terdapat rentang perkembangan yang cukup lebar pada anak-anak yang berkembang secara tipikal.
Karena itu, anak yang belum berjalan pada usia tertentu tidak sebaiknya langsung dibandingkan dengan anak lain. Namun, bukan berarti orang tua perlu menunggu tanpa memperhatikan perkembangan. Yang penting adalah melihat apakah anak terus menunjukkan kemajuan, bagaimana kemampuan geraknya secara keseluruhan, dan apakah terdapat tanda lain yang perlu diperhatikan.
Apa yang Perlu Diamati Orang Tua?
Selain melihat apakah anak sudah bisa melakukan suatu milestone, Ayah Bunda dapat memperhatikan beberapa hal lain. Di antaranya, apakah anak semakin mampu mengontrol tubuhnya? Apakah ia mulai mencoba berpindah posisi? Apakah ia menggunakan kedua sisi tubuh secara seimbang? Apakah kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai tiba-tiba menghilang? Apakah anak tampak sangat kesulitan melakukan gerakan yang sesuai dengan usianya? Pengamatan seperti ini memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan hanya bertanya, “Sudah bisa jalan atau belum?”
Jika orang tua memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan anak, American Academy of Pediatrics (AAP) juga menyarankan agar kekhawatiran tersebut dibicarakan dengan tenaga kesehatan dan tidak perlu menunggu sampai pemeriksaan berikutnya. Skrining perkembangan dapat membantu menilai berbagai aspek perkembangan, termasuk motorik kasar dan motorik halus.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Fisioterapis?
Konsultasi dapat dipertimbangkan apabila:
- Anak tampak mengalami kesulitan mencapai berbagai kemampuan motorik sesuai perkembangan usianya.
- Anak terlihat kesulitan mempertahankan posisi tubuh tertentu.
- Gerakan salah satu sisi tubuh tampak berbeda atau jarang digunakan. • Anak tampak sangat kesulitan menjaga keseimbangan atau mengkoordinasikan gerakan.
- Kemampuan motorik yang sebelumnya sudah dikuasai justru mengalami kemunduran.
- Orang tua memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan gerak anak.
Konsultasi tidak selalu berarti anak pasti membutuhkan terapi. Justru, evaluasi membantu orang tua mendapatkan gambaran yang lebih objektif mengenai kemampuan anak. Jika memang terdapat area yang membutuhkan dukungan, fisioterapis dapat membantu menentukan stimulasi atau intervensi yang sesuai.
Bagaimana Fisioterapis Membantu?
Fisioterapis tidak hanya melihat apakah anak sudah bisa duduk atau berjalan. Mereka juga melihat bagaimana anak melakukan suatu gerakan. Misalnya, ketika anak berdiri, fisioterapis dapat mengamati bagaimana ia mempertahankan keseimbangan, menggunakan otot, memindahkan berat badan, dan merespons perubahan posisi.
Dari hasil evaluasi tersebut, program dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. Aktivitas terapi juga dapat dilakukan melalui permainan yang membuat anak tetap aktif mengeksplorasi gerakan. Orang tua pun dapat diberikan arahan mengenai aktivitas yang bisa dilakukan dalam keseharian sehingga kesempatan anak untuk bergerak tidak hanya terjadi selama sesi terapi.
Tidak Perlu Membandingkan, Tetapi Jangan Mengabaikan
Melihat anak lain yang sudah berjalan ketika anak sendiri belum bisa memang dapat memunculkan kekhawatiran. Namun, membandingkan anak satu dengan lainnya tidak selalu memberikan jawaban yang tepat. Sebaliknya, coba lihat perjalanan anak sendiri. Apa yang sudah bisa ia lakukan sekarang ? Kemampuan apa yang mulai berkembang ? Apakah ada kemajuan dari waktu ke waktu? Dan jika ada sesuatu yang membuat Ayah Bunda khawatir, tidak ada salahnya mencari penjelasan lebih awal.
Memeriksakan perkembangan anak bukan berarti memberikan label bahwa anak memiliki masalah. Justru, semakin jelas gambaran kemampuan anak, semakin tepat pula orang tua dapat menentukan dukungan yang dibutuhkan. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa perkembangan motorik bukan perlombaan. Setiap anak memiliki perjalanan yang berbeda. Yang terpenting adalah memastikan anak mendapatkan kesempatan untuk bergerak, bermain, mengeksplorasi, dan berkembang dengan dukungan yang sesuai.
Key Takeaway
Anak yang belum duduk, merangkak, atau berjalan pada waktu yang sama dengan anak lain tidak otomatis mengalami keterlambatan. Perkembangan motorik memiliki rentang yang cukup luas. Namun, jika Ayah Bunda memiliki kekhawatiran atau melihat adanya kesulitan dan kemunduran kemampuan, konsultasi lebih awal dapat membantu memahami kebutuhan anak dengan lebih tepat
Sumber Referensi
Sumber Resmi
- World Health Organization (WHO). Motor Development Milestones – WHO Child Growth Standards.
- World Health Organization (WHO). Windows of Achievement for Six Gross Motor Milestones.
- American Academy of Pediatrics (AAP). Assessing Developmental Delays in Children.
