Anak Belum Bisa Duduk, Merangkak, atau Berjalan, Haruskah Orang Tua Khawatir?

Banyak orang tua yang mulai cemas ketika melihat anak seusianya sudah bisa duduk, berdiri, atau berjalan, sementara anaknya masih membutuhkan bantuan.“Kok anak saya belum bisa seperti anak yang lain, ya?” Kekhawatiran seperti ini sangat wajar. Perkembangan motorik memang menjadi salah satu hal yang mudah diamati orang tua. Kita bisa melihat ketika anak mulai berguling, duduk, merangkak, berdiri, hingga akhirnya mengambil langkah pertamanya.

Namun, perkembangan anak tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang persis sama. Seorang anak mungkin lebih cepat duduk, sementara anak lain membutuhkan waktu lebih  panjang untuk siap berdiri. Karena itu, melihat satu pencapaian saja belum cukup untuk  menentukan apakah perkembangan motorik seorang anak mengalami keterlambatan. Perlu orang tua ingat yang lebih penting adalah melihat keseluruhan perkembangan, pola  kemampuan anak, dan bagaimana kemampuannya berkembang dari waktu ke waktu.

Perkembangan Motorik Terjadi Secara Bertahap

Kemampuan motorik kasar berkembang melalui berbagai tahapan. Anak secara  bertahap belajar mengendalikan tubuhnya untuk melakukan gerakan yang semakin kompleks. Beberapa kemampuan yang biasanya diamati antara lain:

Kemampuan-kemampuan tersebut dapat menjadi gambaran bagi orang tua untuk  mengikuti perkembangan motorik anak. Namun, urutan dan waktu pencapaiannya tidak selalu  persis sama pada setiap anak. Ada anak yang lebih cepat menguasai kemampuan tertentu,  sementara anak lain membutuhkan waktu lebih panjang atau memiliki pola perkembangan  yang sedikit berbeda. Karena itu, perkembangan motorik sebaiknya tidak dilihat sebagai daftar  target yang harus dicapai pada usia tertentu. World Health Organization (WHO) menggunakan  konsep windows of achievement, yaitu rentang waktu ketika berbagai milestone motorik dapat  dicapai, bukan satu usia tunggal yang harus dipenuhi semua anak.

Jadi, Kalau Anak Belum Berjalan, Apakah Berarti Terlambat?

Belum tentu, salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi adalah menganggap  bahwa setiap anak harus mencapai milestone tepat pada usia yang sama. Padahal,  perkembangan memiliki variasi yang cukup luas. Dalam data WHO, misalnya, window of  achievement untuk berjalan mandiri berada sekitar usia 8,2 hingga 17,6 bulan. Artinya, terdapat  rentang perkembangan yang cukup lebar pada anak-anak yang berkembang secara tipikal.

Karena itu, anak yang belum berjalan pada usia tertentu tidak sebaiknya langsung  dibandingkan dengan anak lain. Namun, bukan berarti orang tua perlu menunggu tanpa  memperhatikan perkembangan. Yang penting adalah melihat apakah anak terus menunjukkan  kemajuan, bagaimana kemampuan geraknya secara keseluruhan, dan apakah terdapat tanda  lain yang perlu diperhatikan.

Apa yang Perlu Diamati Orang Tua?

Selain melihat apakah anak sudah bisa melakukan suatu milestone, Ayah Bunda dapat  memperhatikan beberapa hal lain. Di antaranya, apakah anak semakin mampu mengontrol  tubuhnya? Apakah ia mulai mencoba berpindah posisi? Apakah ia menggunakan kedua sisi  tubuh secara seimbang? Apakah kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai tiba-tiba  menghilang? Apakah anak tampak sangat kesulitan melakukan gerakan yang sesuai dengan  usianya? Pengamatan seperti ini memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan  hanya bertanya, “Sudah bisa jalan atau belum?”

Jika orang tua memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan anak, American  Academy of Pediatrics (AAP) juga menyarankan agar kekhawatiran tersebut dibicarakan  dengan tenaga kesehatan dan tidak perlu menunggu sampai pemeriksaan berikutnya. Skrining  perkembangan dapat membantu menilai berbagai aspek perkembangan, termasuk motorik  kasar dan motorik halus.

Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Fisioterapis?

Konsultasi dapat dipertimbangkan apabila: 

Konsultasi tidak selalu berarti anak pasti membutuhkan terapi. Justru, evaluasi  membantu orang tua mendapatkan gambaran yang lebih objektif mengenai kemampuan anak.  Jika memang terdapat area yang membutuhkan dukungan, fisioterapis dapat membantu  menentukan stimulasi atau intervensi yang sesuai. 

Bagaimana Fisioterapis Membantu?

Fisioterapis tidak hanya melihat apakah anak sudah bisa duduk atau berjalan. Mereka  juga melihat bagaimana anak melakukan suatu gerakan. Misalnya, ketika anak berdiri,  fisioterapis dapat mengamati bagaimana ia mempertahankan keseimbangan, menggunakan  otot, memindahkan berat badan, dan merespons perubahan posisi.

Dari hasil evaluasi tersebut, program dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. Aktivitas  terapi juga dapat dilakukan melalui permainan yang membuat anak tetap aktif mengeksplorasi  gerakan. Orang tua pun dapat diberikan arahan mengenai aktivitas yang bisa dilakukan dalam  keseharian sehingga kesempatan anak untuk bergerak tidak hanya terjadi selama sesi terapi.

Tidak Perlu Membandingkan, Tetapi Jangan Mengabaikan

Melihat anak lain yang sudah berjalan ketika anak sendiri belum bisa memang dapat  memunculkan kekhawatiran. Namun, membandingkan anak satu dengan lainnya tidak selalu  memberikan jawaban yang tepat. Sebaliknya, coba lihat perjalanan anak sendiri. Apa yang  sudah bisa ia lakukan sekarang ? Kemampuan apa yang mulai berkembang ? Apakah ada  kemajuan dari waktu ke waktu? Dan jika ada sesuatu yang membuat Ayah Bunda khawatir,  tidak ada salahnya mencari penjelasan lebih awal.

Memeriksakan perkembangan anak bukan berarti memberikan label bahwa anak  memiliki masalah. Justru, semakin jelas gambaran kemampuan anak, semakin tepat pula orang  tua dapat menentukan dukungan yang dibutuhkan. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa  perkembangan motorik bukan perlombaan. Setiap anak memiliki perjalanan yang berbeda.  Yang terpenting adalah memastikan anak mendapatkan kesempatan untuk bergerak, bermain,  mengeksplorasi, dan berkembang dengan dukungan yang sesuai.

Key Takeaway

Anak yang belum duduk, merangkak, atau berjalan pada waktu yang sama dengan anak  lain tidak otomatis mengalami keterlambatan. Perkembangan motorik memiliki rentang yang  cukup luas. Namun, jika Ayah Bunda memiliki kekhawatiran atau melihat adanya kesulitan  dan kemunduran kemampuan, konsultasi lebih awal dapat membantu memahami kebutuhan  anak dengan lebih tepat

Sumber Referensi 

Sumber Resmi

Jurnal Ilmiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *