
Ada masa ketika menjadi orang tua terasa seperti tidak pernah benar-benar selesai. Pagi dimulai dengan menyiapkan kebutuhan anak. Setelah itu bekerja, mengurus rumah, mendampingi anak belajar, mengantar terapi atau sekolah, menyiapkan makan, lalu kembali memastikan semuanya siap untuk esok hari.
Di sela semua itu, mungkin ada satu hal yang terus ditunda yaitu istirahat. Bukan karena orang tua tidak membutuhkannya, tetapi karena selalu ada hal lain yang terasa lebih penting.
“Nanti saja kalau anak sudah tidur.”
“Saya harus kuat, kan?”
“Masih banyak yang harus dikerjakan.”
Padahal, merasa lelah bukan berarti Ayah Bunda kurang menyayangi anak. Menjadi orang tua memang membutuhkan energi fisik dan emosional yang besar. Ketika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa cukup waktu untuk memulihkan diri, kemampuan seseorang untuk menghadapi stres juga dapat ikut menurun. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa stres merupakan respons alami terhadap situasi yang menantang, tetapi stres yang terlalu berat atau berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental.
Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah
Sebagian orang tua mungkin merasa bahwa mengambil waktu untuk diri sendiri adalah bentuk keegoisan. Padahal, merawat diri merupakan bagian dari menjaga kemampuan untuk tetap menjalankan peran sebagai orang tua.
WHO mendefinisikan self-care sebagai kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan serta menghadapi berbagai kondisi yang dihadapi, dengan atau tanpa dukungan tenaga kesehatan. Self-care juga mencakup kebiasaan sederhana seperti tidur yang cukup, aktivitas fisik, pola makan yang baik, dan terhubung dengan orang lain. Artinya, merawat diri tidak selalu harus berupa pergi berlibur atau memiliki waktu berjam-jam sendirian.
Terkadang, bentuknya jauh lebih sederhana. Makan dengan tenang tanpa terburu-buru. Tidur ketika ada kesempatan. Berjalan sebentar. Mengobrol dengan pasangan atau orang yang dipercaya. Memiliki waktu untuk melakukan sesuatu yang disukai. Hal-hal kecil tersebut mungkin tidak langsung menghilangkan semua masalah, tetapi dapat memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk mengambil jeda.
Coba Kenali Saat Diri Mulai Kehabisan Energi
Setiap orang memiliki tanda yang berbeda ketika mulai kewalahan. Namun, beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:
- lebih mudah tersinggung atau marah;
- sulit berkonsentrasi;
- merasa tidak memiliki energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari;
- sulit tidur atau kualitas tidur terganggu;
- kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya menyenangkan;
- merasa terus-menerus terburu-buru atau kewalahan;
- mulai merasa bahwa semua tanggung jawab harus ditanggung sendiri.
Satu atau dua tanda tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami masalah kesehatan mental tertentu. Namun, jika kelelahan dan tekanan terus berlangsung serta mulai mengganggu fungsi sehari-hari, kondisi tersebut layak mendapatkan perhatian. WHO juga mencatat bahwa stres dapat muncul dalam bentuk iritabilitas, kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur, dan berbagai keluhan fisik.
Tidak Harus Menunggu Sampai Benar-Benar Habis
Salah satu jebakan yang sering terjadi adalah menunggu sampai tubuh dan pikiran benar-benar tidak mampu lagi menjalankan aktivitas sebelum mencari bantuan. Padahal, meminta bantuan tidak harus menunggu sampai keadaan menjadi sangat berat.Ayah Bunda dapat mulai dengan membicarakan kondisi yang sedang dirasakan kepada pasangan, keluarga, atau orang yang dipercaya. Jika memungkinkan, bagilah tanggung jawab pengasuhan sehingga tidak seluruhnya berada pada satu orang.
Bahkan kalimat sederhana seperti,“Aku sedang capek sekali. Bisa bantu menjaga anak sebentar?”merupakan bentuk komunikasi kebutuhan, bukan tanda kegagalan sebagai orang tua. WHO juga menekankan bahwa orang tua dan caregiver membutuhkan dukungan dan tidak dapat diharapkan menjalankan seluruh tanggung jawab pengasuhan sendirian. Dukungan bagi orang tua merupakan bagian penting dalam menjaga kesejahteraan keluarga.
Bagaimana Kalau Tidak Punya Banyak Waktu?
Tidak semua orang tua memiliki kesempatan untuk mengambil waktu panjang bagi dirinya sendiri. Karena itu, jangan menunggu sampai ada “waktu kosong” yang sempurna. Coba mulai dengan mencari jeda kecil yang realistis. Misalnya :
- Lima belas menit untuk benar-benar beristirahat, bukan menyelesaikan pekerjaan
rumah. - Bergantian dengan pasangan agar masing-masing memiliki waktu untuk
memulihkan energi. - Mengurangi tuntutan yang tidak mendesak. Rumah tidak harus selalu sempurna dan
semua pekerjaan tidak harus selesai dalam satu hari. - Tetap terhubung dengan orang lain. Bercerita kepada orang yang dipercaya dapat
membantu seseorang merasa tidak menghadapi semuanya sendirian. - Mengenali kebutuhan diri sebelum terlalu lelah. Jangan hanya menunggu tubuh dan
emosi memberikan sinyal yang sangat kuat.
Merawat diri bukan berarti meninggalkan anak. Justru, ketika kebutuhan dasar orang tua lebih terjaga, ia memiliki kapasitas yang lebih baik untuk hadir dalam kehidupan anak.
Ketika Orang Tua Mulai Merasa “Saya Sudah Tidak Sanggup”
Ada kalanya kelelahan bukan lagi sekadar membutuhkan istirahat. Jika perasaan sedih, cemas, mudah marah, kehilangan minat, gangguan tidur, atau rasa kewalahan berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, Ayah Bunda dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan yang sesuai.
Konsultasi bukan berarti seseorang gagal menjadi orang tua. Justru, mencari bantuan dapat menjadi langkah untuk memahami apa yang sedang terjadi dan menemukan dukungan yang dibutuhkan. Dalam pendampingan keluarga, perhatian terhadap kondisi orang tua juga merupakan bagian penting. Ketika orang tua menyampaikan bahwa dirinya mulai kelelahan, pembicaraan tidak harus selalu kembali kepada bagaimana membuat anak berubah. Kadang, orang tua juga membutuhkan ruang untuk memahami perasaannya sendiri, mengenali sumber tekanan, dan mencari cara agar tanggung jawab pengasuhan dapat dijalani dengan lebih sehat.
Pada akhirnya, menjadi orang tua bukan berarti selalu memiliki energi yang cukup setiap saat. Ada hari ketika Ayah Bunda merasa kuat, ada hari ketika semuanya terasa berat, keduanya manusiawi. Jadi, ketika suatu hari Ayah Bunda merasa perlu berhenti sejenak, mungkin yang dibutuhkan bukan rasa bersalah, melainkan izin untuk mengatakan pada diri sendiri bahwa Ayah Bunda juga perlu istirahat. Karena merawat diri bukan berarti mengurangi kasih sayang kepada anak. Merawat diri adalah salah satu cara agar Ayah Bunda tetap memiliki tenaga untuk terus hadir dan mendampingi anak dalam perjalanan tumbuh kembangnya.
Sumber Referensi
Sumber Resmi
- World Health Organization (WHO). Self-care for Health and Well-being.
- World Health Organization (WHO). Stress – Questions and Answers.
- World Health Organization (WHO). The Role of the Health Sector in Supporting Parents and Their Caregiving Potential.
- American Academy of Pediatrics (AAP). Stress and Health: What Parents Need to Know.
