
Menjadi orang tua sering kali diartikan sebagai siap berkorban. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan kebutuhan diri sendiri sering kali dikesampingkan demi memastikan anak mendapatkan yang terbaik. Bagi orang tua yang mendampingi anak dengan kebutuhan khusus, pengorbanan itu sering kali terasa lebih besar. Jadwal terapi, latihan di rumah, konsultasi dengan tenaga profesional, aktivitas sekolah, pekerjaan, hingga berbagai kekhawatiran tentang masa depan anak menjadi bagian dari rutinitas yang dijalani hampir setiap hari.
Di tengah semua perhatian yang tercurah kepada anak, ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu kondisi orang tua itu sendiri. Tidak sedikit Ayah dan Bunda yang merasa harus selalu kuat. Mereka berusaha tetap tersenyum di depan anak, meskipun diam-diam merasa lelah, mudah marah, kehilangan semangat, atau bahkan mulai mempertanyakan kemampuan dirinya sebagai orang tua. Perasaan-perasaan tersebut sering kali dipendam karena muncul anggapan bahwa orang tua tidak boleh mengeluh.
Padahal, merasakan lelah bukan berarti kurang menyayangi anak. Dalam dunia psikologi, kelelahan fisik, emosional, dan mental yang muncul akibat merawat atau mendampingi orang lain dalam jangka waktu yang panjang dikenal sebagai caregiver burnout.
Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja yang memiliki tanggung jawab sebagai pendamping,
termasuk orang tua anak dengan kebutuhan khusus. Burnout biasanya tidak datang secara tiba-tiba. Ia berkembang perlahan hingga akhirnya mulai memengaruhi keseharian. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Merasa lelah hampir setiap hari meskipun sudah beristirahat.
- Lebih mudah marah atau kehilangan kesabaran terhadap hal-hal kecil.
- Sulit menikmati waktu bersama anak karena pikiran terus dipenuhi kekhawatiran.
- Merasa bersalah ketika ingin meluangkan waktu untuk diri sendiri.
- Kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.
- Merasa harus memikul semua tanggung jawab seorang diri.
Setiap orang tua dapat menunjukkan tanda yang berbeda. Ada yang menjadi lebih sensitif, ada yang lebih sering menangis, ada pula yang merasa tidak lagi memiliki energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Apa pun bentuknya, kondisi tersebut tidak sebaiknya diabaikan. Burnout juga tidak muncul karena satu penyebab. Tekanan yang berlangsung terus-menerus, keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik bagi anak, tuntutan pekerjaan, kondisi finansial, hingga minimnya waktu untuk beristirahat dapat saling bertumpuk dan menguras energi orang tua tanpa disadari.
Dalam salah satu sesi konsultasi orang tua di Terapeutik, seorang ibu awalnya datang untuk berdiskusi mengenai beberapa tantangan yang ia hadapi selama mendampingi terapi anaknya di rumah. Namun, di tengah percakapan, pembahasannya justru beralih kepada dirinya sendiri. Ia bercerita bahwa akhir-akhir ini lebih mudah marah kepada pasangan, sulit menikmati waktu bersama keluarga, dan hampir setiap malam merasa kelelahan. Yang paling membuatnya tidak nyaman adalah muncul rasa bersalah setiap kali ia ingin mengambil waktu untuk beristirahat. Menurutnya, selama anak masih membutuhkan pendampingan, ia merasa tidak pantas memikirkan dirinya sendiri.
Melalui sesi konsultasi tersebut, psikolog membantu ibu memahami bahwa apa yang ia rasakan merupakan pengalaman yang cukup sering dialami oleh orang tua yang mendampingi anak dengan kebutuhan khusus. Psikolog memberikan psikoedukasi mengenai caregiver
burnout sekaligus mengajak ibu mengenali sumber-sumber tekanan yang ia alami. Bersama-sama mereka menyusun langkah-langkah sederhana yang lebih realistis, seperti membagi peran dengan pasangan, memberikan waktu istirahat bagi diri sendiri, dan berhenti menuntut diri untuk selalu sempurna.
Pada pertemuan berikutnya di sesi report terapi anak, ibu tersebut sempat menceritakan bahwa tantangan dalam mendampingi anak memang belum berubah. Namun, ia merasa lebih tenang karena mulai memahami bahwa menjaga dirinya sendiri bukan berarti mengurangi kasih sayangnya kepada anak. Justru ketika kondisi emosionalnya lebih baik, ia merasa lebih sabar, lebih fokus, dan lebih menikmati setiap proses tumbuh kembang anaknya. Lalu, apa yang dapat Ayah Bunda lakukan untuk mencegah burnout?
- Sadari bahwa merasa lelah adalah hal yang manusiawi.
- Berhenti menuntut diri menjadi orang tua yang selalu sempurna.
- Jangan ragu meminta bantuan pasangan atau keluarga ketika diperlukan.
- Sisihkan waktu, meskipun sebentar, untuk melakukan aktivitas yang membantu tubuh
dan pikiran kembali pulih. - Rayakan setiap kemajuan kecil yang dicapai anak tanpa terus membandingkannya
dengan anak lain. - Jika kelelahan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau berlangsung dalam waktu
yang lama, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog.
Mendampingi tumbuh kembang anak adalah sebuah perjalanan, bukan perlombaan. Dalam perjalanan itu, orang tua juga membutuhkan ruang untuk bernapas, beristirahat, dan memulihkan tenaga. Sebab, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang mampu hadir dengan hati yang sehat, pikiran yang lebih tenang, dan energi yang cukup untuk terus membersamainya.
Sumber Referensi
Organisasi Profesi
- American Psychological Association (APA).
- American Academy of Pediatrics (AAP).
- Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia).
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Jurnal Ilmiah Pendukung
- Peer, J. W., & Hillman, S. B. (2014). Stress and Resilience for Parents of Children
With Intellectual and Developmental Disabilities: A Review of Key Factors and Recommendations for Practitioners. Journal of Policy and Practice in Intellectual Disabilities, 11(2), 92–98. - Hayes, S. A., & Watson, S. L. (2013). The Impact of Parenting Stress: A Meta-analysis of Studies Comparing the Experience of Parenting Stress in Parents of Children With and Without Autism Spectrum Disorder. Journal of Autism and Developmental Disorders, 43(3), 629–642.
