Tahapan Perkembangan Bahasa Anak, dari Babbling sampai Kalimat Lengkap

Ada satu momen yang hampir selalu berhasil membuat orang tua tersenyum. Bukan ketika anak mendapat nilai bagus. Bukan pula saat anak memenangkan perlombaan. Melainkan ketika untuk pertama kalinya terdengar suara dari Si Kecil, “Ma…” atau “Pa…”. Meski bunyi itu belum tentu benar-benar memanggil Ayah atau Bunda, momen tersebut sering menjadi awal dari perjalanan panjang perkembangan bahasa anak. Dari sekadar mengoceh, kemudian mengucapkan kata pertama, menyusun dua kata, hingga akhirnya mampu menceritakan pengalaman di sekolah, semua terjadi melalui tahapan yang berkembang sedikit demi sedikit.

Karena prosesnya berlangsung secara bertahap, perubahan tersebut sering kali tidak disadari. Baru ketika melihat anak seusianya sudah lebih banyak berbicara, sebagian orang tua mulai bertanya, “Apakah perkembangan bahasa anak saya sudah sesuai usianya?”. Memahami tahapan perkembangan bahasa bukan untuk membandingkan anak dengan teman sebayanya. Sebaliknya, pengetahuan ini membantu Ayah Bunda mengenali proses belajar komunikasi anak sekaligus mengetahui kapan stimulasi tambahan atau evaluasi perlu dilakukan.

Usia 0-6 Bulan: Belajar Mendengar Dunia

Perjalanan bahasa dimulai jauh sebelum anak mampu mengucapkan katapertama. Pada usia ini, bayi mulai mengenali suara orang-orang di sekitarnya. Ia akan menoleh ketika mendengar suara, tersenyum saat diajak berbicara, serta mulai mengeluarkan berbagai bunyi sederhana sebagai bentuk awal komunikasi. Meskipun belum dapat berbicara, interaksi sederhana seperti mengajak bayi mengobrol, bernyanyi, atau membacakan cerita sudah menjadi stimulasi yang penting bagi perkembangan bahasanya.

Usia 6-12 Bulan: Mulai Mengoceh (Babbling)

Di tahap ini, bayi mulai memasuki fase babbling, yaitu mengulang suku kata seperti “ba-ba-ba”, “ma-ma-ma”, atau “da-da-da”. Selain mulai mengoceh, bayi biasanya juga mulai memahami beberapa kata sederhana, menoleh ketika namanya dipanggil, menunjuk benda yang menarik perhatian, atau melambaikan tangan sebagai bentuk komunikasi nonverbal. Meskipun terdengar seperti bermain suara, fase babbling merupakan bagian penting dalam proses belajar berbicara.

Usia 12-24 Bulan: Kata Pertama yang Dinanti

Pada rentang usia ini, anak mulai mengucapkan kata-kata yang memiliki makna, seperti “mama”, “ayah”, “mau”, atau nama benda yang sering ditemui. Seiring bertambahnya kosakata, anak mulai memahami instruksi sederhana dan perlahan mampu menggabungkan dua kata menjadi kalimat pendek, misalnya “mau susu” atau “bola jatuh”. Tahap ini biasanya menjadi masa ketika perkembangan bahasa berlangsung cukup pesat karena anak semakin sering berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Usia 2-3 Tahun: Mulai Merangkai Kalimat

Anak mulai mampu menyampaikan keinginan dengan kalimat yang lebih panjang. Ia dapat mengajukan pertanyaan sederhana, menceritakan pengalaman yang baru dialaminya, mengikuti percakapan singkat, serta memahami instruksi yang lebih kompleks. Semakin sering diajak berbicara dan berinteraksi, kemampuan bahasa anak biasanya akan berkembang semakin baik.

Usia 3-5 Tahun: Belajar Bercerita

Pada usia prasekolah, kemampuan komunikasi anak berkembang semakin matang. Anak mulai mampu menceritakan pengalaman dengan urutan yang lebih jelas, menggunakan kalimat yang lebih lengkap, serta berbicara sehingga dapat dipahami
oleh orang lain di luar keluarga. Kemampuan inilah yang nantinya menjadi bekal penting ketika anak mulai belajar di lingkungan sekolah dan berinteraksi dengan teman sebaya.

Penting dipahami bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Ada anak yang lebih cepat mengucapkan kata pertama, sementara yang lain membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Selama perkembangan bahasa terus menunjukkan kemajuan dan masih berada dalam rentang yang wajar, perbedaan tersebut umumnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Namun, apabila kemampuan bahasa anak tampak jauh tertinggal dibandingkan tahapan usianya atau mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari, Ayah Bunda sebaiknya tidak hanya menunggu tanpa mencari informasi lebih lanjut.

Dalam salah satu sesi konsultasi awal di Terapeutik, orang tua seorang anak berusia dua tahun datang karena khawatir anaknya belum banyak berbicara. Di rumah, anak lebih sering menarik tangan orang tuanya atau menunjuk benda yang diinginkan daripada mengucapkan kata-kata. Orang tua sempat menganggap hal tersebut wajar karena ada anggota keluarga yang juga baru lancar berbicara pada usia yang lebih besar.

Setelah dilakukan asesmen, Terapis Wicara menjelaskan bahwa kemampuan komunikasi anak memang memerlukan stimulasi yang lebih terarah. Selain menyusun program pendampingan sesuai kebutuhan anak, terapis juga memberikan psikoedukasi kepada orang tua mengenai cara menstimulasi bahasa dalam aktivitas sehari-hari, seperti mengajak anak berbicara saat bermain, membacakan buku cerita, memberi waktu anak merespons sebelum dibantu, serta memperbanyak interaksi dua arah di rumah.

Selama proses pendampingan, orang tua mulai menerapkan berbagai stimulasi tersebut secara konsisten di rumah sambil terus berkolaborasi dengan Terapis Wicara. Dalam setiap sesi, perkembangan anak dipantau dan strategi stimulasi disesuaikan dengan kebutuhannya. Orang tua kemudian mulai menyadari adanya perubahan-perubahan kecil, seperti anak yang semakin sering berusaha menyampaikan keinginannya menggunakan kata-kata dibandingkan hanya menunjuk atau menarik tangan orang tuanya.

Perubahan tersebut tidak terjadi secara instan. Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda-beda. Ada yang menunjukkan kemajuan lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu dan pendampingan lebih panjang. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat perubahan itu terjadi, tetapi bagaimana anak terus menunjukkan perkembangan sesuai dengan potensi dan kebutuhannya melalui stimulasi yang konsisten serta pendampingan yang tepat.

Lalu, kapan Ayah Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan Terapis Wicara? Pertimbangkan untuk melakukan evaluasi apabila:

Semakin dini keterlambatan bahasa dikenali, semakin cepat pula stimulasi dan pendampingan dapat diberikan sesuai kebutuhan anak. Tujuannya bukan sekadar agar anak cepat berbicara, tetapi agar ia mampu menyampaikan kebutuhan, memahami orang lain, dan membangun hubungan sosial yang baik.

Organisasi Profesi
Jurnal Ilmiah Pendukung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *