
“Kalau saya bantu terus, nanti anak saya jadi tidak mandiri. Tapi kalau saya biarkan, dia malah kesulitan.” Dilema seperti ini mungkin pernah dirasakan Ayah Bunda ketika mendampingi anak melakukan aktivitas sehari-hari.
Saat anak kesulitan memakai sepatu misalnya, tangan orang tua mungkin langsung bergerak membantu. Ketika anak belum bisa membuka kotak makan, kita membukakannya. Ketika anak kesulitan membereskan mainan, kita akhirnya menyelesaikannya karena waktu sudah semakin sore. Membantu anak tentu bukan sesuatu yang salah. Ada saat ketika anak memang membutuhkan bantuan orang dewasa. Namun, anak juga membutuhkan kesempatan untuk mencoba. Lalu, kapan sebaiknya kita membantu dan kapan sebaiknya memberi anak kesempatan untuk melakukannya sendiri?
Mandiri Bukan Berarti Harus Melakukan Semuanya Sendiri
Kemandirian sering kali dipahami sebagai kemampuan anak melakukan sesuatu tanpa bantuan. Padahal, proses menjadi mandiri berlangsung secara bertahap. Anak yang sedang belajar memakai baju mungkin awalnya membutuhkan bantuan hampir di seluruh proses. Setelah beberapa kali mencoba, ia mungkin mulai bisa memasukkan tangannya sendiri ke lengan baju. Beberapa waktu kemudian, ia mungkin mampu melakukannya dengan sedikit arahan.
Artinya, bantuan dan kemandirian bukan dua hal yang bertentangan. Bantuan dapat menjadi jembatan agar anak secara perlahan mampu melakukan aktivitas yang sebelumnya belum dapat dilakukan sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa banyak bantuan yang diberikan dan kapan bantuan tersebut mulai dikurangi.
Tidak Perlu Langsung Mengambil Alih
Bayangkan anak sedang mencoba memasukkan kakinya ke sepatu, ia mencoba sekali, namun salah. Mencoba lagi, masih belum berhasil. Kemudian ia melihat ke arah Ayah Bunda. Pada situasi seperti ini, kita mungkin refleks mengambil sepatu tersebut dan langsung memakaikannya. Padahal, sebelum mengambil alih, kita bisa memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba kembali. Bukan berarti anak harus dibiarkan frustrasi tanpa bantuan. Orang tua dapat memberikan bantuan secara bertahap.
Misalnya, berikan anak waktu untuk mencoba terlebih dahulu. Jangan langsung melakukan sesuatu yang sebenarnya masih mampu ia lakukan sendiri. Jika anak kesulitan, orang tua dapat memberikan petunjuk sederhana sesuai bagian yang sedang ia kerjakan. Saat anak sedang memakai sepatu, misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Masukkan ujung kakinya ke sini dulu,” sambil menunjuk bagian dalam sepatu. Jika anak masih kesulitan, orang tua dapat membantu sebagian, misalnya dengan memegang sepatu sementara anak memasukkan kakinya. Bantuan penuh tetap dapat diberikan ketika aktivitas terlalu sulit, berisiko, atau anak memang belum memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Dengan cara ini, anak tetap mendapatkan dukungan tanpa kehilangan kesempatan untuk mencoba dan belajar.
Bantuan Seperti Apa yang Sesuai?
Tidak ada satu ukuran bantuan yang berlaku untuk semua anak. Dua anak yang melakukan aktivitas yang sama mungkin membutuhkan tingkat bantuan yang berbeda. Anak yang baru belajar makan menggunakan sendok tentu membutuhkan lebih banyak bantuan dibandingkan anak yang sudah terbiasa. Begitu pula anak yang baru belajar memakai pakaian akan membutuhkan dukungan yang berbeda dari anak yang sudah menguasainya.
Karena itu, orang tua dapat menggunakan satu pertanyaan sederhana,“Apa yang sudah bisa dilakukan anak dan bagian mana yang masih membutuhkan bantuan?” Jawabannya dapat membantu menentukan bantuan seperti apa yang diberikan. Jika anak sudah mampu melakukan sebagian aktivitas, tidak perlu mengambil alih seluruhnya. Misalnya, anak sudah bisa memasukkan kedua kakinya ke celana tetapi belum mampu menariknya sampai pinggang. Orang tua dapat membantu bagian yang belum dikuasai tanpa melakukan seluruh proses untuknya. Dengan begitu, anak tetap memiliki kesempatan untuk menggunakan kemampuan yang sudah dimilikinya.
Bagaimana Kalau Anak Menjadi Frustrasi?
Memberikan kesempatan mencoba bukan berarti membiarkan anak berjuang sendirian sampai frustrasi. Rasa frustrasi juga merupakan bagian dari proses belajar, tetapi orang tua tetap perlu memperhatikan batas kemampuan anak. Jika tugas terlalu sulit maka bantuan dapat diberikan.
Misalnya anak sudah mencoba membuka wadah makanan beberapa kali tetapi belum berhasil. Daripada terus mengatakan “Ayo coba lagi”, orang tua dapat membantu membuka bagian yang sulit lalu membiarkan anak menyelesaikan bagian berikutnya. Pesannya kepada anak menjadi,”Kamu boleh mencoba, dan Ayah/Bunda ada di sini kalau kamu membutuhkan bantuan ya.” Pendekatan seperti ini berbeda dengan langsung mengambil alih, tetapi juga berbeda dengan membiarkan anak menghadapi kesulitan sendirian.
Coba Terapkan dalam Aktivitas Sehari-hari
Kesempatan untuk belajar mandiri sebenarnya muncul sepanjang hari. Misalnya saat berpakaian, biarkan anak mencoba memilih atau memakai bagian pakaian yang sudah mampu ia lakukan. Saat makan, berikan kesempatan menggunakan alat makan sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya. Saat merapikan mainan, jangan langsung membereskan semuanya. Ajak anak mengambil beberapa benda dan mengembalikannya ke tempat semula. Saat memakai sepatu, berikan waktu untuk mencoba sebelum memberikan bantuan. Saat menyiapkan perlengkapan sekolah, anak dapat dilibatkan dalam mengambil dan memasukkan barang-barang yang sudah dikenalnya.
Aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi anak, aktivitas sehari-hari merupakan kesempatan untuk belajar mengikuti langkah, memecahkan masalah, menggunakan tubuh, membuat pilihan, dan merasakan keberhasilan.
Tidak Harus Cepat
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membangun kemandirian anak, yaitu tujuannya bukan membuat anak bisa secepat mungkin. Anak mungkin membutuhkan lebih
banyak waktu dibandingkan orang dewasa untuk menyelesaikan sesuatu. Ketika orang tua sedang terburu-buru, mengambil alih memang sering kali terasa lebih praktis. Namun, jika situasinya memungkinkan, memberikan sedikit tambahan waktu dapat menjadi kesempatan belajar bagi anak.
Misalnya, daripada langsung memakaikan sepatu karena takut terlambat, orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba terlebih dahulu ketika tidak sedang terburu-buru. Jadi, tidak semua aktivitas harus dijadikan latihan kemandirian. Namun ketika waktu memungkinkan, berikan ruang untuk mencoba. Ketika situasinya membutuhkan kecepatan atau berkaitan dengan keselamatan, bantuan orang dewasa tentu tetap diperlukan.
Bagaimana Jika Anak Selalu Meminta Dibantu?
Anak yang sering meminta bantuan juga belum tentu berarti tidak mandiri. Bisa jadi aktivitas tersebut memang masih sulit baginya. Bisa juga ia belum yakin dengan kemampuannya atau sudah terbiasa mendapatkan bantuan sebelum sempat mencoba. Daripada orang tua langsung mengatakan,”Kamu kan sudah besar, masa begini saja minta dibantu?”
Orang tua dapat mencoba mencari tahu bagian mana yang membuat anak kesulitan.“Bagian mana yang susah?” Atau “Mau coba sendiri dulu atau Bunda bantu bagian ini?” Pertanyaan sederhana tersebut memberikan anak kesempatan untuk mengenali kebutuhannya sekaligus tetap merasa didukung.
Kapan Bantuan Perlu Lebih Banyak?
Ada kalanya anak memang membutuhkan dukungan yang lebih besar. Misalnya, kemampuan anak belum cukup untuk melakukan aktivitas tertentu, aktivitas membutuhkan keterampilan yang belum dikuasai, atau terdapat risiko keselamatan jika anak melakukannya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, membantu bukan berarti menghambat kemandirian. Justru, bantuan yang sesuai dengan kebutuhan anak dapat membuat aktivitas terasa lebih mungkin dilakukan.
Jika orang tua melihat bahwa anak secara konsisten mengalami kesulitan dalam berbagai aktivitas sehari-hari seperti makan, berpakaian, menggunakan alat tulis, bermain, atau melakukan aktivitas perawatan diri, konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu memahami kemampuan dan kebutuhan anak secara lebih menyeluruh. Terapis Okupasi, misalnya, dapat mengevaluasi bagaimana kemampuan anak memengaruhi aktivitas sehari-hari dan membantu menentukan strategi yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan anak.
Pada Akhirnya Anak Tetap Membutuhkan Kita
Memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba bukan berarti orang tua harus membiarkannya menghadapi kesulitan sendirian. Ada kalanya anak membutuhkan bantuan, ada kalanya cukup diberikan petunjuk, dan ada pula saat ketika kita perlu menunggu dan memberi ruang agar anak mencoba sendiri. Jika aktivitas terlalu sulit atau berisiko, orang tua tentu tetap perlu membantu. Jadi, yang penting bukan memilih antara membantu atau membiarkan, melainkan memahami bantuan seperti apa yang dibutuhkan anak pada saat itu.
Pada akhirnya, tujuan membangun kemandirian bukanlah membuat anak merasa bahwa ia harus selalu bisa melakukan semuanya sendiri. Anak justru perlu belajar bahwa ia boleh mencoba dan bahwa meminta bantuan ketika belum mampu juga merupakan hal yang wajar.
Dari pengalaman-pengalaman kecil itulah kemandirian tumbuh, yaitu ketika anak mendapatkan kesempatan untuk mencoba, belajar dari prosesnya, dan perlahan mampu melakukan lebih banyak hal dengan kemampuannya sendiri.
Key Takeaway
Membangun kemandirian anak bukan berarti selalu membiarkannya melakukan semuanya sendiri. Orang tua dapat memberikan bantuan sesuai kebutuhan, memberi kesempatan untuk mencoba, lalu secara bertahap mengurangi bantuan ketika anak mulai mampu melakukannya. Dengan begitu, anak belajar bahwa mencoba itu aman dan meminta bantuan ketika membutuhkan juga merupakan hal yang wajar.
Sumber Referensi
Sumber Resmi
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Positive Parenting Tips.
- American Occupational Therapy Association (AOTA). Occupational Therapy Practice Framework: Domain and Process (OTPF-4).
- World Health Organization (WHO). Nurturing Care for Early Childhood Development.
Jurnal Ilmiah
- Dunst, C. J., Trivette, C. M., & Hamby, D. W. (2010). Meta-analysis of family-centered helpgiving practices research. Mental Retardation and Developmental Disabilities Research Reviews, 13(2), 370–378.
- Rosenbaum, P., & Gorter, J. W. (2012). The “F-words” in childhood disability: I swear this is how we should think! Child: Care, Health and Development, 38(4), 457–463.
