Boleh Kok Merasa Kesal pada Anak Sendiri 

Sepertinya menjadi orang tua harus selalu mempunyai satu paket kemampuan khusus  untuk tetap sabar dalam situasi apa pun, tenang menghadapi berbagai tingkah anak, selalu tahu  harus berbuat apa, dan tentu saja tidak boleh kesal kepada anak sendiri. Masalahnya, tidak ada  satu pun dari kita yang benar-benar mendapatkan paket itu. Orang tua tetap manusia, dimana  ada hari ketika energinya terasa habis, kesabaran menipis, dan hal kecil yang dilakukan anak  tiba-tiba terasa jauh lebih mengganggu dari biasanya.

Lalu muncul rasa bersalah, “Kok aku kesal sama anak sendiri?”Perasaan seperti ini  sering membuat orang tua buru-buru menilai dirinya sendiri. Takut dianggap tidak sabar, tidak  cukup sayang, atau bahkan menjadi orang tua yang buruk. Padahal, merasakan kesal dan  melampiaskan kekesalan adalah dua hal yang berbeda. 

Merasa Kesal Tidak Berarti Tidak Menyayangi Anak 

Orang tua bisa sangat menyayangi anak sekaligus merasa kesal terhadap perilaku  anaknya pada waktu yang sama. Ketika anak terus meminta sesuatu saat orang tua sedang  bekerja, berulang kali menolak melakukan rutinitas, atau membuat rumah kembali berantakan  setelah baru saja dirapikan, rasa kesal dapat muncul secara alami. 

Emosi merupakan bagian dari pengalaman manusia. Kita tidak selalu dapat memilih  emosi apa yang muncul, tetapi kita masih dapat belajar mengenali dan mengatur bagaimana  kita meresponsnya. Karena itu, munculnya rasa kesal tidak perlu langsung diikuti dengan  pikiran, “Berarti aku orang tua yang buruk.”Yang lebih penting adalah mengenali apa yang  sedang terjadi pada diri sendiri sebelum emosi tersebut memengaruhi cara kita memperlakukan  anak. 

Kadang yang Melelahkan Bukan Hanya Perilaku Anak

Ketika orang tua mulai mudah tersulut, mungkin ada hal lain yang sedang terjadi di belakangnya. Bisa saja ia sedang kurang tidur, pekerjaan yang belum selesai, banyaknya urusan rumah, kebutuhan anak yang terus datang, atau minimnya waktu untuk beristirahat dapat membuat energi emosional semakin terkuras. Dalam kondisi seperti itu, situasi yang biasanya masih bisa dihadapi dengan tenang mungkin terasa jauh lebih berat.

Karena itu, ketika mulai merasa lebih mudah marah atau kesal, orang tua dapat mencoba berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, “Aku sebenarnya sedang merasa apa?”Mungkin memang ada perilaku anak yang perlu dihadapi. Namun, mungkin juga orang tua sedang sangat lelah, kewalahan, atau membutuhkan dukungan. Mengenali hal tersebut bukan berarti mencari alasan untuk membenarkan perilaku yang tidak tepat. Justru, kesadaran ini dapat membantu orang tua menentukan respons yang lebih aman.

Emosi Negatif Boleh Muncul, Tetapi Tidak Semua Respons Bisa Dibenarkan

Ini adalah bagian yang penting, mengatakan bahwa orang tua boleh merasa kesal bukan berarti semua cara mengekspresikan kekesalan menjadi wajar. Orang tua boleh merasa marah, tetapi bukan berarti boleh memukul. Boleh merasa frustrasi, tetapi bukan berarti boleh menghina atau mempermalukan anak. Boleh merasa kewalahan, tetapi ketika emosi sudah terlalu tinggi, justru penting untuk mencari cara agar respons yang muncul tidak menyakiti anak. Dengan kata lain, kita tidak selalu bisa memilih emosi yang muncul, tetapi kita tetap memiliki tanggung jawab terhadap tindakan yang kita lakukan setelahnya.

Ketika Emosi Mulai Memuncak Cobalah Mengambil Jeda

Ada kalanya orang tua menyadari bahwa dirinya sudah berada di batas kesabaran. Suara mulai meninggi, tubuh terasa tegang, atau muncul dorongan untuk langsung membentak. Pada kondisi seperti ini, memaksakan diri untuk terus menghadapi situasi justru mungkin membuat respons semakin sulit dikendalikan.


Jika situasinya memungkinkan dan anak berada dalam kondisi aman, orang tua dapat mengambil jeda sebentar. Cobalah tarik napas, minum air, duduk sejenak, atau meminta pasangan maupun anggota keluarga lain mengambil alih untuk sementara dapat membantu memberikan ruang sebelum kembali menghadapi situasi. Jeda bukan berarti meninggalkan tanggung jawab sebagai orang tua. Jeda dapat menjadi cara untuk mencegah emosi yang sedang memuncak berubah menjadi tindakan yang nantinya disesali.

Kalau Sudah Terlanjur Membentak

Menjadi orang tua bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Ada kalanya emosi sudah terlalu tinggi dan orang tua akhirnya membentak. Setelah itu, rasa bersalah mungkin muncul. Namun, berhenti pada menyalahkan diri sendiri tidak akan memperbaiki situasi.

Orang tua dapat mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan dengan anak. Misalnya dengan mengatakan, “Tadi Ayah/Bunda membentak. Ayah/Bunda sedang sangat kesal, tapi membentak kamu bukan cara yang tepat. Maaf, ya nak.” Permintaan maaf seperti ini tidak berarti orang tua kehilangan wibawa. Anak justru dapat belajar bahwa orang dewasa juga bisa melakukan kesalahan, mengakuinya, dan berusaha memperbaikinya.

Tetapi, jika membentak, mengancam, atau kehilangan kendali mulai terjadi berulang kali, hal tersebut sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang harus ditahan sendiri. Orang tua dapat mempertimbangkan untuk mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional.

Orang Tua Juga Membutuhkan Dukungan

Dalam pengasuhan, perhatian sering kali seluruhnya tertuju kepada kebutuhan anak. Padahal, kondisi orang tua juga berpengaruh terhadap bagaimana pengasuhan dijalani. Memiliki waktu untuk tidur, beristirahat, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau melakukan aktivitas yang membantu memulihkan energi bukan berarti mengabaikan anak.

Tentu tidak semua orang tua memiliki kondisi dan dukungan yang sama. Karena itu, bentuk pemulihan diri tidak harus selalu berupa me time yang ideal. Bisa sesederhana meminta pasangan mengambil alih sebentar, meminta bantuan keluarga, menyelesaikan satu pekerjaan lebih sedikit hari itu, atau memberikan diri sendiri kesempatan untuk berhenti sejenak. Sehingga bisa kita simpulkan orang tua tidak harus menghadapi seluruh beban pengasuhan sendirian.

Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Tidak Pernah Kesal

Mungkin kita tidak akan pernah menjadi orang tua yang selalu sabar setiap saat. Dan mungkin memang bukan itu tujuan yang perlu dikejar. Anak membutuhkan orang tua yang berusaha hadir, memahami kebutuhannya, sekaligus mampu mengenali ketika dirinya sendiri sedang berada di batas kemampuan. Ada hari ketika semuanya berjalan dengan baik. Ada pula hari ketika orang tua merasa kewalahan dan kehilangan kesabaran.

Keduanya dapat menjadi bagian dari perjalanan pengasuhan. Jadi, ketika suatu hari muncul perasaan, “Aku benar-benar kesal dengan anakku hari ini,” mungkin kita tidak perlu buru-buru menghakimi diri sendiri. Cobalah berhenti sebentar. Kenali apa yang sedang dirasakan, pahami apa yang mungkin membuat emosi tersebut muncul, dan cari cara untuk merespons tanpa menyakiti anak. Karena menjadi orang tua yang baik bukan berarti tidak pernah merasa kesal sama sekali. Yang penting adalah bagaimana kita belajar merespons rasa kesal tersebut dengan cara yang tetap menjaga diri sendiri dan anak.

Key Takeaway

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *