
Pernah melihat anak berjalan melewati meja lalu tidak sengaja menabraknya? Atau baru saja diberi gelas, beberapa saat kemudian gelas itu terjatuh dari tangannya? Ketika hal seperti ini terjadi berulang kali, orang tua mungkin mulai berpikir, “Kok anak saya ceroboh sekali, ya?” Label tersebut memang terdengar sederhana. Namun, perilaku seperti sering menabrak benda, menjatuhkan barang, atau tersandung sebenarnya dapat terjadi karena berbagai alasan.
Pada sebagian anak, hal tersebut hanya bagian dari proses belajar mengendalikan tubuh dan menyesuaikan gerakan dengan lingkungan. Namun, pada anak lain, kesulitan koordinasi, keseimbangan, atau kemampuan menyadari posisi tubuh dapat ikut berperan. Karena itu, daripada langsung menyebut anak ceroboh, coba lihat lebih jauh bagaimana ia bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Anak yang Sering Menabrak Belum Tentu Ceroboh
Anak membutuhkan kemampuan untuk mengetahui posisi tubuhnya ketika bergerak. Saat berjalan melewati meja, misalnya, anak perlu memperkirakan posisi tubuhnya terhadap benda di sekitarnya. Saat mengambil gelas, ia perlu mengoordinasikan gerakan mata dan tangan sekaligus mengatur seberapa kuat tangannya menggenggam benda tersebut.
Kemampuan seperti ini berkembang secara bertahap. Karena itu, sesekali menabrak meja, tersandung, atau menjatuhkan benda merupakan hal yang dapat terjadi dalam keseharian anak. Bahkan, anak yang terlihat ceroboh belum tentu mengalami masalah koordinasi. Yang lebih penting adalah melihat seberapa sering hal tersebut terjadi, dalam situasi apa, dan apakah perilaku tersebut mulai mengganggu aktivitas anak. (nhs.uk)
Apa yang Sebenarnya Perlu Diperhatikan?
Ada beberapa kemampuan yang dapat diamati orang tua dalam aktivitas sehari-hari.
- 1. Kesadaran terhadap posisi tubuh
Anak perlu mengetahui di mana posisi tubuhnya ketika bergerak. Kemampuan ini membantu anak memperkirakan jarak dengan benda di sekitarnya. Misalnya, ketika berjalan melewati kursi, anak perlu mengetahui apakah tubuhnya cukup jauh dari kursi tersebut agar tidak menabraknya.
- 2. Keseimbangan
Keseimbangan membantu anak mempertahankan posisi tubuh ketika berdiri, berjalan, berlari, naik turun tangga, atau melakukan aktivitas bermain. Anak yang mengalami kesulitan dalam keseimbangan mungkin terlihat lebih sering kehilangan kestabilan atau menghindari aktivitas tertentu yang membutuhkan kontrol tubuh.
- 3. Koordinasi gerakan
Banyak aktivitas membutuhkan beberapa bagian tubuh bekerja secara bersamaan. Ketika anak menangkap bola, misalnya, ia perlu
memperkirakan arah bola, menggerakkan tangan ke posisi yang tepat, dan mengatur waktu gerakannya. Kesulitan koordinasi dapat terlihat dalam berbagai aktivitas, mulai dari permainan fisik hingga kegiatan sehari-hari.
Perencanaan gerakan
Sebelum melakukan suatu gerakan, tubuh perlu “merencanakan” bagaimana gerakan tersebut akan dilakukan. Anak mungkin tampak kesulitan ketika mempelajari keterampilan baru yang membutuhkan beberapa langkah gerakan, seperti menggunakan gunting, memakai pakaian, mengendarai sepeda, atau mengikuti permainan tertentu.
Kemampuan koordinasi dan perencanaan gerakan dapat memengaruhi berbagai aktivitas sehari-hari anak. Pada kondisi seperti Developmental Coordination Disorder (DCD), misalnya, kesulitan koordinasi dapat terlihat dalam aktivitas motorik kasar maupun motorik halus. Namun, diagnosis tidak dapat ditentukan hanya karena anak terlihat sering menjatuhkan barang atau menabrak benda. (nhs.uk)
Coba Lihat Aktivitas Sehari-harinya
Daripada hanya memperhatikan seberapa sering anak menjatuhkan barang, Ayah Bunda dapat mengamati aktivitasnya secara keseluruhan. Apakah anak juga kesulitan menggunakan sendok dan garpu? Apakah ia membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk berpakaian dibandingkan anak seusianya? Apakah ia kesulitan menggunakan gunting, menggambar, atau menulis? Apakah ia sering kesulitan mengikuti permainan yang membutuhkan koordinasi gerak? Apakah ia sering tersandung atau kehilangan keseimbangan? Apakah ia menghindari aktivitas fisik karena merasa kesulitan melakukannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kemampuan anak. Sebab, yang menjadi perhatian bukan sekadar “anak sering menjatuhkan barang”, tetapi apakah ada pola kesulitan motorik yang lebih luas dan apakah kesulitan tersebut memengaruhi aktivitas yang penting bagi anak.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi?
Ayah Bunda dapat mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional apabila kesulitan koordinasi anak terjadi secara konsisten dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Misalnya, anak:
- Sering mengalami kesulitan dalam berbagai aktivitas yang membutuhkan koordinasi;
- Tampak jauh lebih kesulitan dibandingkan teman sebaya dalam keterampilan motorik
tertentu; - Mengalami kesulitan dalam aktivitas sehari-hari seperti berpakaian, makan, bermain,
atau menggunakan alat tulis; - Sering menghindari permainan atau aktivitas fisik karena merasa kesulitan;
- Mengalami kesulitan yang menetap dalam mempelajari keterampilan motorik baru.
Jika orang tua memiliki kekhawatiran, evaluasi dapat membantu melihat kemampuan anak secara lebih menyeluruh. Pada kondisi tertentu, anak dapat dinilai oleh beberapa tenaga profesional sesuai kebutuhan. Terapis Okupasi dapat berperan dalam menilai bagaimana
kemampuan motorik dan fungsi anak memengaruhi aktivitas sehari-hari serta membantu menemukan strategi agar anak dapat berpartisipasi lebih optimal. (nhs.uk)
Apa yang Dilakukan Terapis Okupasi?
Terapis Okupasi tidak hanya melihat apakah anak bisa melakukan suatu gerakan atau tidak. Yang juga diperhatikan adalah bagaimana kemampuan tersebut memengaruhi aktivitas yang penting bagi anak. Misalnya, jika anak kesulitan mengikuti aktivitas menggambar, terapis dapat mengamati koordinasi tangan, kemampuan mempertahankan posisi tubuh, cara menggunakan alat tulis, hingga tuntutan aktivitas yang diberikan.
Jika anak sering kesulitan saat bermain, terapis dapat mengamati bagaimana anak merencanakan gerakan, menjaga keseimbangan, berkoordinasi, dan menyesuaikan gerakannya dengan lingkungan. Dari hasil pengamatan tersebut, terapis dapat membantu menentukan strategi yang sesuai. Intervensi juga dapat diarahkan pada aktivitas yang memang penting dalam kehidupan anak, baik di rumah, sekolah, maupun saat bermain. Pendekatan terapi okupasi pada anak memang berfokus pada kemampuan anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya pada satu kemampuan motorik secara terpisah. (Rumah Sakit Doncaster Bassetlaw)
Tidak Semua Anak yang Ceroboh Membutuhkan Terapi
Ini bagian yang penting untuk diingat, sering menabrak atau menjatuhkan barang tidak otomatis berarti anak membutuhkan terapi. Anak dapat memiliki pengalaman dan kecepatan perkembangan motorik yang berbeda. Ada anak yang memang membutuhkan lebih banyak latihan untuk menguasai keterampilan tertentu, sementara anak lainnya berkembang tanpa membutuhkan intervensi khusus. Karena itu, orang tua tidak perlu langsung panik ketika melihat anak beberapa kali menjatuhkan barang.
Sebaliknya, amati polanya. Jika anak tetap dapat bermain, belajar, bergerak, dan melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kebutuhannya, perilaku tersebut belum tentu menunjukkan adanya masalah. Namun, jika kesulitan koordinasi muncul berulang kali, terjadi dalam berbagai aktivitas, dan mulai menghambat kemandirian atau partisipasi anak, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Pada akhirnya, mungkin bukan soal apakah anak “ceroboh atau tidak”. Yang lebih penting adalah memahami apa yang membuat sebuah aktivitas terasa sulit bagi anak dan dukungan seperti apa yang dapat membantunya. Dengan cara pandang tersebut, kita tidak hanya membantu anak melakukan aktivitas dengan lebih baik, tetapi juga menghindarkan mereka dari label yang mungkin membuatnya merasa dirinya “tidak bisa” atau “selalu salah”.
Key Takeaway
Anak yang sering menabrak atau menjatuhkan barang tidak otomatis berarti ceroboh atau memiliki gangguan tertentu. Perhatikan pola kesulitannya dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Jika koordinasi, keseimbangan, atau keterampilan motoriknya mulai menghambat aktivitas dan kemandirian anak, evaluasi oleh tenaga profesional dapat membantu memahami kebutuhannya dengan lebih tepat.
Sumber Referensi
- National Health Service (NHS). Developmental Co-ordination Disorder (Dyspraxia) in Children – Symptoms.
- National Health Service (NHS). Developmental Co-ordination Disorder (Dyspraxia) in Children – Treatment.
- American Occupational Therapy Association (AOTA). School Sensory Integration: A Framework for Linking Common Core State Standards.
- Oxford Health NHS Foundation Trust – Children’s Integrated Therapies. My Child Is Clumsy / Banging Into Things.
Referensi Pendukung
