Apa yang Dilakukan Terapis Wicara Selain Mengajarkan Anak Bicara?

Ketika mendengar istilah “terapi wicara”, hal pertama yang mungkin terlintas adalah  anak yang belum bisa berbicara. Tidak sedikit orang tua yang kemudian berpikir bahwa selama  anak sudah bisa mengucapkan beberapa kata, terapi wicara mungkin tidak lagi diperlukan. Padahal, kemampuan berbicara hanyalah salah satu bagian dari kemampuan komunikasi.

Seorang anak perlu memahami apa yang dikatakan orang lain, menyampaikan  keinginan dan pikirannya, menggunakan bahasa dalam interaksi, serta menghasilkan suara dan  kata dengan cara yang dapat dipahami. Pada kondisi tertentu, terapis wicara juga dapat  berperan dalam membantu masalah makan dan menelan. Jadi, sebenarnya apa saja yang  dilakukan Terapis Wicara?

Bukan Hanya Mengajarkan Anak Mengucapkan Kata

Kemampuan komunikasi anak berkembang melalui beberapa aspek yang saling  berkaitan. Misalnya, anak mungkin sudah mampu mengucapkan banyak kata, tetapi masih  kesulitan memahami instruksi. Ada pula anak yang memahami apa yang dikatakan orang lain,  tetapi belum mampu menggunakan kata atau kalimat untuk menyampaikan keinginannya.

Karena itu, ketika melakukan evaluasi, Terapis Wicara tidak hanya melihat berapa  banyak kata yang dapat diucapkan anak. Terapis juga dapat melihat bagaimana anak  memahami bahasa, menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, menghasilkan suara bicara,  serta berinteraksi dengan orang lain. 
Dalam ilmu patologi wicara-bahasa, kemampuan bahasa mencakup kemampuan  memahami bahasa (receptive language) dan menggunakan bahasa untuk menyampaikan  pikiran, kebutuhan, maupun perasaan (expressive language). Kemampuan komunikasi sosial  juga menjadi bagian yang dapat diperhatikan dalam pendampingan. (Asosiasi Tanda Bahasa  Amerika

Lalu Apa Saja yang Dapat Dibantu? 

1. Kemampuan memahami bahasa 

Ada anak yang tampak tidak mengikuti instruksi bukan karena sengaja tidak  menurut, tetapi karena belum sepenuhnya memahami bahasa yang digunakan orang  dewasa. Terapis Wicara dapat membantu mengevaluasi kemampuan anak dalam  memahami kata, kalimat, pertanyaan, maupun instruksi sesuai tahap perkembangannya. 

2. Kemampuan menggunakan bahasa

Anak mungkin memahami apa yang dikatakan orang lain, tetapi kesulitan  menyampaikan keinginannya. Misalnya, anak masih lebih sering menunjuk atau  menarik tangan orang tua ketika menginginkan sesuatu, padahal sudah berada pada  tahap perkembangan ketika penggunaan kata atau bentuk komunikasi lainnya mulai  diharapkan. Pendampingan dapat diarahkan untuk membantu anak menggunakan cara  komunikasi yang lebih efektif sesuai kemampuan dan kebutuhannya.

3. Pengucapan dan kejelasan bicara

Ada pula anak yang sudah banyak berbicara, tetapi perkataannya sulit dipahami  karena mengalami kesulitan menghasilkan suara tertentu. Dalam kondisi seperti ini,  fokus terapi bukan lagi sekadar “membuat anak bisa bicara”, melainkan membantu  meningkatkan kemampuan menghasilkan suara bicara sehingga komunikasi anak dapat  menjadi lebih jelas.

4. Komunikasi sosial 

Berkomunikasi bukan hanya tentang berbicara. Anak juga belajar menggunakan  komunikasi untuk menyapa, meminta bantuan, menjawab pertanyaan, berbagi  perhatian, mengikuti percakapan, atau menyesuaikan cara berkomunikasi dengan  situasi dan lawan bicara. Kemampuan tersebut termasuk dalam aspek komunikasi sosial  yang juga menjadi bagian dari ruang lingkup terapi wicara. (Asosiasi Tanda Bahasa  Amerika

5. Kemampuan makan dan menelan pada kondisi tertentu

Hal ini mungkin belum banyak diketahui orang tua. Pada anak dengan kondisi  tertentu, Terapis Wicara yang memiliki kompetensi di bidang tersebut juga dapat  terlibat dalam evaluasi dan pendampingan masalah makan dan menelan. Misalnya,  anak mengalami kesulitan mengunyah, memiliki respons tertentu terhadap tekstur  makanan, sering menolak makanan, atau mengalami kesulitan menelan. Dalam kondisi  seperti ini, evaluasi dapat mencakup kemampuan oral-motor, kemampuan makan, serta  keamanan proses menelan. (Asosiasi Tanda Bahasa Amerika)

Namun, tidak semua Terapis Wicara menangani masalah makan dan menelan.  Bidang tersebut membutuhkan kompetensi khusus sehingga penting memastikan  tenaga profesional yang menangani anak memiliki pelatihan dan kompetensi yang  sesuai.

Kapan Anak Perlu Berkonsultasi dengan Terapis Wicara? 

Ayah Bunda dapat mempertimbangkan konsultasi apabila memiliki kekhawatiran  mengenai kemampuan komunikasi anak. Misalnya, anak: 

  • Belum menunjukkan perkembangan komunikasi sesuai tahap usianya.
  • Kesulitan memahami instruksi sederhana.
  • Lebih sering menggunakan gestur atau menarik tangan orang lain untuk menyampaikan keinginan.
  • Sulit menyusun kata atau kalimat sesuai tahap perkembangannya.
  • Ucapannya sulit dipahami oleh orang lain.
  • Mengalami kesulitan berkomunikasi dalam interaksi sosial.
  • Mengalami masalah makan atau menelan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Kekhawatiran orang tua sendiri juga merupakan alasan yang cukup untuk berdiskusi  dengan tenaga profesional. Evaluasi tidak berarti anak pasti memiliki gangguan tertentu. Justru,  evaluasi membantu mendapatkan gambaran mengenai kemampuan yang sudah dimiliki dan  area yang masih membutuhkan dukungan

Terapi Wicara Tidak Selalu Terlihat Seperti “Belajar Bicara”

Bayangkan seorang anak yang datang ke sesi terapi. Alih-alih duduk dan diminta  menghafalkan banyak kata, anak mungkin diajak bermain dengan benda yang menarik baginya. Terapis dapat mengikuti minat anak sambil menciptakan kesempatan untuk berkomunikasi. Ketika anak menginginkan sebuah benda, misalnya, terapis dapat membantu anak belajar  meminta. Ketika bermain bersama, anak dapat diajak bergantian, mengikuti instruksi  sederhana, mengenali nama benda, atau menggunakan kata untuk menyampaikan keinginan.

Aktivitas yang terlihat seperti bermain tersebut sebenarnya dapat menjadi bagian dari  proses stimulasi komunikasi yang terarah. Hal yang sama berlaku ketika orang tua  mendapatkan arahan untuk melanjutkan stimulasi di rumah. Tujuannya bukan membuat rumah  berubah menjadi ruang terapi, tetapi memasukkan kesempatan berkomunikasi ke dalam  aktivitas yang memang sudah dilakukan sehari-hari. Saat makan, mandi, bermain, membaca  buku, atau bersiap tidur, orang tua dapat menciptakan banyak kesempatan bagi anak untuk  mendengar, memahami, dan menggunakan komunikasi.

Setiap Anak Membutuhkan Pendekatan yang Berbeda

Tidak semua anak datang dengan kebutuhan yang sama. Ada anak yang membutuhkan dukungan dalam memahami bahasa. Ada yang membutuhkan bantuan dalam menggunakan bahasa. Ada juga yang perlu mendapatkan perhatian pada kejelasan bicara atau  kemampuan komunikasi sosial. Karena itu, program terapi tidak seharusnya dibuat hanya  berdasarkan usia atau jumlah kata yang dapat diucapkan anak. Terapis Wicara melakukan  evaluasi untuk memahami kemampuan dan kebutuhan anak, kemudian menentukan tujuan  pendampingan yang sesuai. Dalam prosesnya, orang tua juga menjadi bagian penting karena  komunikasi tidak hanya terjadi di ruang terapi. 

Pada akhirnya, terapi wicara bukan sekadar membantu anak agar bisa berbicara. Tujuan  yang lebih luas adalah membantu anak memiliki cara untuk memahami dan menyampaikan  pesan, berinteraksi dengan orang lain, serta berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari dengan  lebih optimal. Jadi, ketika Ayah Bunda mendengar istilah “terapi wicara”, jangan hanya  membayangkan anak yang sedang belajar mengucapkan kata. Di baliknya, ada proses untuk  memahami bagaimana seorang anak menerima pesan, menyampaikan pesan, berinteraksi, dan  berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. 

Key Takeaway

Terapi wicara tidak hanya ditujukan untuk anak yang belum bisa berbicara. Terapis  Wicara dapat membantu berbagai aspek komunikasi, mulai dari memahami bahasa,  menggunakan bahasa, kejelasan bicara, hingga komunikasi sosial. Pada kondisi dan  kompetensi tertentu, Terapis Wicara juga dapat menangani masalah makan dan menelan. 

Sumber Referensi

Sumber Resmi 

Jurnal Ilmiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *