
“Ah, nanti juga bisa sendiri..”, kalimat ini mungkin pernah Ayah Bunda dengar ketika khawatir karena si Kecil belum bisa duduk, merangkak, atau berjalan seperti teman-teman seusianya. Ada pula yang mengatakan, “Ayahnya dulu juga telat jalan, jadi wajar kalau anaknya begitu.” Mendengar berbagai pendapat tersebut, tidak sedikit orang tua akhirnya memilih menunggu sambil berharap perkembangan anak akan mengejar dengan sendirinya.
Di sisi lain, ketika mendengar kata fisioterapi, sebagian orang tua justru merasa takut. Mereka membayangkan terapi hanya diperuntukkan bagi anak yang mengalami kelumpuhan atau kondisi yang sangat berat. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.
Ada banyak informasi yang beredar mengenai fisioterapi anak. Sayangnya, tidak semuanya sesuai dengan fakta. Akibatnya, sebagian orang tua justru terlambat mencari bantuan karena terlanjur mempercayai berbagai mitos yang berkembang di masyarakat. Yuk, kenali beberapa mitos yang paling sering ditemui beserta fakta sebenarnya.
Mitos 1: “Fisioterapi hanya untuk anak yang lumpuh.”
Inilah salah satu anggapan yang paling sering ditemui. Faktanya, fisioterapi anak membantu berbagai kondisi yang memengaruhi kemampuan gerak dan perkembangan motorik, bukan hanya pada anak yang mengalami kelumpuhan. Fisioterapis dapat mendampingi anak yang mengalami keterlambatan motorik, gangguan keseimbangan, kelemahan otot, koordinasi gerak yang kurang baik, hingga kondisi neurologis maupun ortopedi tertentu.
Tujuan fisioterapi adalah membantu anak mencapai kemampuan gerak yang optimal sesuai dengan potensi dan kebutuhannya, sehingga ia dapat lebih mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Mitos 2: “Kalau ditunggu, nanti juga bisa sendiri.”
Memang benar bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatannya masing-masing. Ada anak yang berjalan di usia 12 bulan, ada pula yang baru mulai berjalan beberapa bulan setelahnya. Variasi ini masih dapat termasuk dalam perkembangan yang normal.
Namun, ketika keterlambatan mulai berada di luar rentang perkembangan yang diharapkan atau disertai tanda-tanda lain yang mengkhawatirkan, menunggu terlalu lama justru dapat membuat kesempatan intervensi dini terlewat. Evaluasi sejak awal bukan berarti anak pasti membutuhkan terapi, tetapi membantu mengetahui apakah perkembangannya masih sesuai variasi normal atau memerlukan pendampingan lebih lanjut.
Mitos 3: “Kalau sudah fisioterapi, anak nanti ketergantungan.”
Tidak sedikit orang tua yang khawatir anak akan terus bergantung pada terapi. Padahal, tujuan fisioterapi justru sebaliknya. Fisioterapis akan melatih kemampuan anak secara bertahap agar ia semakin mandiri sesuai tahap perkembangannya. Selain sesi terapi, orang tua juga akan diberikan edukasi dan latihan sederhana yang dapat dilakukan di rumah sehingga perkembangan anak terus berlanjut dalam aktivitas sehari-hari.
Keberhasilan terapi bukan diukur dari seberapa lama anak menjalani terapi, melainkan dari sejauh mana kemampuan anak berkembang dan target yang telah ditetapkan dapat tercapai. Salah satu kasus yang sering dijumpai praktisi di Terapeutik adalah seorang anak usia 20 bulan yang belum dapat berjalan mandiri. Keluarga menyarankan orang tua untuk menunggu karena menganggap ayahnya dulu juga terlambat berjalan. Namun, setelah dilakukan evaluasi oleh fisioterapis, diketahui bahwa anak mengalami kelemahan pada kontrol postur dan keseimbangan sehingga membutuhkan latihan yang lebih terarah. Melalui program fisioterapi yang disesuaikan dengan kebutuhannya, disertai latihan rutin di rumah bersama orang tua, kemampuan berjalan anak berkembang secara bertahap dan ia menjadi lebih percaya diri untuk mengeksplorasi lingkungannya.
Beberapa kisah tersebut menunjukkan bahwa keterlambatan motorik tidak selalu memiliki penyebab yang sama. Karena itu, membandingkan perkembangan setiap anak atau hanya berpatokan pada pengalaman anggota keluarga belum tentu menjadi acuan yang tepat. Lalu, kapan Ayah Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan fisioterapis? Pertimbangkan untuk melakukan evaluasi apabila:
- Anak tampak terlambat mencapai kemampuan motorik sesuai usianya, seperti
berguling, duduk, merangkak, berdiri, atau berjalan. - Gerakan anak terlihat tidak seimbang atau salah satu sisi tubuh tampak lebih lemah.
- Anak sering terjatuh atau tampak kesulitan menjaga keseimbangan dibandingkan teman
seusianya. - Orang tua maupun dokter memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan motorik anak.
Melalui evaluasi yang komprehensif, fisioterapis akan menilai kemampuan gerak anak, mencari faktor yang memengaruhi perkembangannya, kemudian menyusun program latihan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Pada beberapa kondisi, fisioterapis juga dapat berkolaborasi dengan psikolog, okupasi terapis, maupun terapis wicara apabila ditemukan kebutuhan pada area perkembangan lainnya.
Tidak semua keterlambatan motorik berarti masalah yang serius. Namun, tidak semua keterlambatan juga cukup diselesaikan dengan menunggu. Mengenali fakta di balik berbagai mitos membantu Ayah Bunda mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat, bukan sekadar berdasarkan cerita yang beredar. Jika ada kekhawatiran terhadap perkembangan motorik si Kecil, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional agar anak mendapatkan dukungan yang sesuai sejak dini.
Sumber Referensi:
Jurnal Ilmiah Pendukung
- Novak, I., Morgan, C., Fahey, M., et al. (2020). State of the Evidence Traffic Lights
2019: Systematic Review of Interventions for Preventing and Treating Children with
Cerebral Palsy. Current Neurology and Neuroscience Reports, 20(2). - WHO. (2019). Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for
Children Under 5 Years of Age.
Ditulis oleh Tim Education Center Terapeutik
