
Mengenal Milestone Tumbuh Kembang Anak, Kapan Orang Tua Perlu Waspada ?
Seorang anak usia 2 tahun, teman-teman sebayanya sudah mulai merangkai kata jadi kalimat
pendek. Anaknya sendiri? Baru bisa menunjuk-nunjuk sambil mengoceh tanpa kata yang jelas. “Ah,
mungkin memang belum waktunya”, begitu batin banyak orang tua saat berada di situasi ini. Tapi
diam-diam, ada juga rasa was-was yang mengganjal, lalu benarkah ini cuma soal waktu, atau justru
tanda yang tidak boleh dilewatkan begitu saja?
Tumbuh kembang anak berjalan di beberapa “jalur” sekaligus mulai dari motorik (gerak),
bahasa/komunikasi, kognitif, dan sosial-emosionalnya. Masing-masing jalur ini punya milestone atau
capaian yang biasanya tercapai di rentang usia tertentu. Mengenal milestone bukan untuk ajang
membandingkan si Kecil dengan anak lain, tapi jadi alat bantu sederhana bagi Ayah Bunda untuk kapan
cukup santai menunggu, dan kapan saatnya mencari tahu lebih jauh.
Berikut milestone yang perlu diperhatikan.
- 0–12 bulan: merespons suara, mulai duduk/merangkak, menoleh saat dipanggil
- 1–2 tahun: mulai berjalan, mengucap kata sederhana, menunjuk yang diinginkan
- 2–3 tahun: menyusun 2–3 kata jadi kalimat, bermain interaktif dengan orang lain
- 3–5 tahun: bicara lebih jelas dipahami orang luar, mulai mandiri (makan/pakai baju sendiri)
Lalu berikut adalah tanda yang perlu diwaspadai.
- Tidak ada kontak mata atau respons terhadap namanya di usia lebih dari 12 bulan
- Belum ada kata bermakna di usia 18 sampai 24 bulan
- Kehilangan kemampuan yang sudah dimiliki sebelumnya (regresi)
- Kesulitan signifikan dalam interaksi sosial dibanding anak seusia
Salah satu contoh kasus yang sering dijumpai praktisi di Terapeutik, seorang ibu sempat menunda
konsultasi karena menganggap anaknya hanya “sulit diatur”. Setelah akhirnya diperiksa di usia 3
tahun, psikolog menemukan bahwa yang terjadi bukan soal perilaku, melainkan anak kesulitan
membahasakan apa yang ia inginkan sehingga sering terlihat rewel atau susah dikendalikan. Dari situ,
anak direkomendasikan untuk mendapat pendampingan terapi wicara. Kasus ini menunjukkan kenapa
deteksi dini penting, bukan untuk buru-buru memberi label pada anak, tapi supaya akar masalahnya
ditemukan lebih cepat dan anak mendapat penanganan yang tepat sasaran sejak awal.
- Amati, jangan bandingkan. Lalu catat perkembangan anak sendiri dari waktu ke waktu
- Gunakan referensi milestone sebagai panduan, bukan patokan mutlak
- Jika ragu, konsultasikan ke profesional. Bukan malah menunggu “nanti juga bisa sendiri”
- Semakin dini terdeteksi, semakin optimal proses intervensi
Setiap anak memang tumbuh dan berkembang dengan ritmenya masing-masing, dan itu hal yang
wajar. Tapi peka terhadap tanda-tanda yang perlu diwaspadai bukan berarti orang tua cemas
berlebihan, justru itulah bentuk kasih sayang yang paling nyata. Kalau Ayah Bunda masih menyimpan
tanda tanya soal tumbuh kembang si Kecil, tim profesional di Terapeutik terbuka dan siap untuk diajak
berdiskusi.
Sumber Referensi :
World Federation of Occupational Therapists (WFOT) – https://wfot.org
American Occupational Therapy Association (AOTA) – https://www.aota.org
Kementerian Kesehatan RI – https://kemkes.go.id
Ditulis oleh Tim Education Center Terapeutik
