
Anak tidak lahir dengan kemampuan untuk memahami semua aturan. Ia perlu belajar bahwa ada waktu untuk bermain, ada waktu untuk berhenti, ada hal yang boleh dilakukan, dan ada pula hal yang tidak aman atau tidak sesuai. Proses belajar ini tidak selalu berjalan mulus. Anak mungkin menangis ketika diminta berhenti bermain, menolak ketika harus membereskan mainan, atau marah ketika orang tua tidak membolehkan melakukan suatu hal.
Dalam situasi seperti ini, orang tua bisa berada di antara dua kekhawatiran, pertama jika terlalu keras anak akan merasa takut, kedua di sisi lain jika terlalu lembut anak malah akan semakin sulit diatur. Padahal, mengajarkan batasan tidak harus dilakukan dengan keras. Batasan justru dapat menjadi cara bagi anak untuk merasa aman sekaligus belajar memahami dunia di sekitarnya.
Mengapa Anak Membutuhkan Batasan?
Bagi orang dewasa, aturan mungkin lebih mudah untuk dipahami. Namun bagi anak, memahami aturan membutuhkan proses belajar. Anak perlu belajar mengendalikan keinginan, menunda kesenangan, memahami konsekuensi, dan mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Kemampuan tersebut berkembang secara bertahap seiring usia dan pengalaman.
Karena itu, batasan bukan hanya bertujuan membuat anak menjadi patuh, melainkan batasan membantu anak memahami:
- apa yang diharapkan darinya;
- perilaku apa yang aman dan tidak aman;
- bagaimana memperlakukan orang lain;
- serta bagaimana mengatur perilakunya ketika menghadapi rasa kecewa atau frustrasi.
Aturan yang konsisten juga membuat lingkungan terasa lebih dapat diprediksi. Anak mengetahui apa yang akan terjadi sehingga tidak harus terus-menerus menebak batas yang berlaku.
Batasan Bukan Hukuman
Ada perbedaan antara memberikan batasan dan menghukum anak. Batasan menjelaskan perilaku yang diharapkan. Misalnya,“Mainannya boleh digunakan, tetapi tidak boleh dilempar karena bisa mengenai orang lain.”. Sementara hukuman yang diberikan tanpa penjelasan dapat membuat anak lebih berfokus pada rasa takut atau konsekuensi yang diterimanya daripada memahami alasan di balik aturan.
Bukan berarti konsekuensi tidak boleh diberikan. Anak tetap perlu belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Namun, konsekuensi sebaiknya diberikan secara jelas, masuk akal, dan berkaitan dengan perilaku yang dilakukan. Misalnya, ketika anak sengaja melempar mainan berulang kali setelah diingatkan, mainan tersebut dapat disimpan sementara. Orang tua kemudian dapat menjelaskan bahwa mainan akan dapat digunakan kembali ketika anak sudah siap menggunakannya dengan aman. Dengan demikian, anak belajar hubungan antara perilaku dan konsekuensi, bukan sekadar belajar bahwa dirinya akan dihukum ketika melakukan kesalahan.
Bagaimana Menetapkan Aturan Tanpa Harus Berteriak?
1. Pilih aturan yang benar-benar penting
Anak tidak perlu memiliki aturan untuk setiap hal kecil. Fokuskan batasan pada hal-hal yang berkaitan dengan keamanan, penghormatan terhadap orang lain, dan rutinitas penting
sehari-hari. Terlalu banyak aturan dapat membuat anak kesulitan memahami mana yang benar- benar penting.
2. Sampaikan aturan dengan sederhana
Anak akan lebih mudah memahami instruksi yang singkat dan konkret. Daripada,“Kamu tuh kalau habis main jangan berantakan terus, kan Bunda sudah bilang berkali-kali!”Coba ganti dengan kalimat ini,“Setelah bermain, mainannya kita rapikan bersama.”Kalimat yang sederhana membantu anak mengetahui dengan jelas apa yang perlu dilakukan.
3. Konsisten dengan aturan
Aturan akan sulit dipahami jika hari ini berlaku, tetapi besok tidak. Konsistensi bukan berarti orang tua tidak boleh fleksibel. Namun, ketika sebuah aturan sudah dianggap penting, usahakan respons orang tua tidak berubah-ubah hanya karena sedang lelah, terburu-buru, atau berada di tempat umum.
4. Berikan pilihan dalam batas yang sudah ditentukan
Memberikan pilihan tidak berarti menyerahkan seluruh keputusan kepada anak. Misalnya,“Mau sikat gigi sekarang atau setelah memakai piyama?”Keduanya tetap mengarah pada tujuan yang sama, yaitu anak bersiap tidur. Namun, anak mendapatkan kesempatan untuk memiliki kendali terhadap pilihan kecil dalam rutinitasnya.
5. Tetap tenang ketika anak tidak langsung menerima aturan
Anak boleh kecewa ketika mendengar “tidak”. Menangis atau marah bukan berarti aturan harus langsung dicabut. Orang tua dapat tetap memvalidasi perasaan anak sambil mempertahankan batasannya.“Kamu kecewa karena masih ingin bermain. Bunda tahu kamu masih ingin bermain. Tapi sekarang waktunya tidur.”Anak belajar bahwa perasaannya boleh ada, tetapi tidak semua keinginannya harus dipenuhi.
Ketika Orang Tua dan Anak Sama-Sama Sedang Belajar
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua mungkin sudah berusaha membuat aturan tetapi tetap menghadapi penolakan. Misalnya, anak selalu meminta tambahan waktu bermain ketika waktunya tidur. Pada awalnya orang tua mungkin berulang kali menjelaskan, kemudian mulai menaikkan suara karena anak tidak kunjung berhenti. Dalam situasi seperti ini, yang perlu dievaluasi bukan hanya perilaku anak, tetapi juga pola interaksi yang terbentuk.
Apakah aturan sudah disampaikan sebelum aktivitas berakhir? Apakah anak tahu apa yang akan dilakukan setelah bermain? Apakah aturan tersebut konsisten? Apakah orang tua memberikan perhatian ketika anak mengikuti aturan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti
ini dapat membantu keluarga menemukan bagian mana yang dapat diperbaiki. Orang tua juga tidak harus selalu sempurna. Ada kalanya lelah membuat kita kehilangan kesabaran. Yang penting adalah kembali memperbaiki interaksi setelah situasi mereda.
Jika kesulitan dalam menetapkan batasan berlangsung terus-menerus, konflik antara orang tua dan anak semakin berat, atau perilaku anak mulai mengganggu fungsi sehari-hari, konsultasi dengan psikolog dapat membantu keluarga memahami pola interaksi yang terjadi dan menemukan strategi yang lebih sesuai.
Mengajarkan aturan bukan berarti membuat anak selalu menurut. Tujuannya adalah membantu anak perlahan memahami batas, mengelola keinginannya, mempertimbangkan orang lain, dan mengambil keputusan yang lebih aman. Karena itu, tegas tidak harus keras.
Orang tua dapat mengatakan “tidak” sambil tetap menunjukkan kasih sayang. Dapat mempertahankan aturan sambil mengakui perasaan anak. Dan dapat memberikan konsekuensi tanpa merendahkan dirinya. Pada akhirnya, anak tidak hanya belajar dari aturan yang dibuat orang tua, tetapi juga dari cara orang tua menetapkan dan menjalankan aturan tersebut.
Sumber Referensi
Sumber Resmi
- American Academy of Pediatrics (AAP). Effective Discipline to Raise Healthy Children.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Essentials for Parenting Toddlers and Preschoolers.
- American Academy of Pediatrics Committee on Psychosocial Aspects of Child and Family Health. (2018). Effective Discipline to Raise Healthy Children. Pediatrics, 142(6), e20183112.
- Gershoff, E. T., & Grogan-Kaylor, A. (2016). Spanking and Child Outcomes: Old Controversies and New Meta-Analyses. Journal of Family Psychology, 30(4), 453–469.
