
Pernah melihat anak yang sulit duduk diam, senang berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, banyak bergerak, atau seolah selalu punya energi untuk bermain? Tidak jarang perilaku seperti ini langsung mendapat label,“Anaknya nakal, ya.”Padahal, anak yang cenderung aktif bergerak tidak otomatis berarti anak nakal.
Setiap anak memiliki karakteristik dan temperamen yang berbeda. Ada anak yang lebih tenang dan senang mengamati, ada yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, dan ada pula yang memang senang bergerak serta mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.
Pada masa kanak-kanak, bergerak, bermain, dan mengeksplorasi merupakan bagian penting dari proses belajar. Karena itu, sebelum memberikan label “nakal”, ada baiknya Ayah Bunda berhenti sejenak dan mencoba memahami perilaku apa yang sebenarnya sedang ditunjukkan anak dan dalam situasi seperti apa perilaku tersebut muncul.
Aktif Bergerak Bukan Berarti Tidak Bisa Diatur
Anak yang cenderung aktif bergerak mungkin senang berlari, memanjat, bermain secara fisik, atau berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Namun, aktif bergerak bukan berarti anak tidak perlu belajar aturan.
Seiring bertambahnya usia, anak tetap perlu belajar menunggu giliran, mengikuti instruksi, mengendalikan impuls (dorongan), dan memahami batasan. Kemampuan tersebut tidak selalu muncul dengan sendirinya. Anak membutuhkan kesempatan, latihan, dan pendampingan dari orang dewasa untuk mempelajarinya.
Misalnya, anak yang sulit duduk diam selama kegiatan belajar belum tentu sedang sengaja tidak mau menurut. Bisa saja aktivitas tersebut berlangsung terlalu lama, instruksi yang diberikan terlalu banyak, atau anak membutuhkan kesempatan untuk bergerak sebelum dapat kembali berkonsentrasi. Di sinilah pentingnya membedakan antara perilaku yang perlu diarahkan dan label terhadap diri anak.
Arahkan Perilakunya, Bukan Memberi Label pada Anaknya
Ada perbedaan antara mengatakan,“Kamu nakal sekali.”dengan “Sekarang waktunya duduk dulu. Setelah selesai, kita bisa bermain lagi.”. Kalimat pertama memberikan label pada diri anak. Sementara kalimat kedua memberikan batasan terhadap perilaku yang sedang dilakukan.
Anak tetap membutuhkan aturan dan batasan. Namun, aturan akan lebih mudah dipahami ketika disampaikan secara jelas, konsisten, dan sesuai dengan kemampuan anak. Dengan begitu, anak belajar bahwa perilaku tertentu mungkin perlu diperbaiki, tetapi kesalahan dalam berperilaku tidak membuat dirinya menjadi “anak nakal”.
Coba Lihat Perilakunya dalam Konteks
Anak mungkin lebih sulit tenang ketika:
- terlalu lama berada dalam situasi yang mengharuskannya diam;
- aktivitas yang diberikan belum sesuai dengan kemampuan atau tahap
perkembangannya; - kurang mendapatkan kesempatan untuk bergerak dan bermain;
- sedang lelah, lapar, atau kurang tidur;
- berada di lingkungan dengan banyak rangsangan;
- belum memahami aturan atau instruksi yang diberikan.
Karena itu, penting untuk melihat kapan dan di mana perilaku tersebut muncul. Anak yang berlari dan banyak bergerak ketika bermain di taman belum tentu memiliki masalah perilaku. Begitu pula anak yang sesekali sulit duduk diam selama suatu aktivitas belum tentu mengalami gangguan tertentu. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perilaku tersebut muncul dalam berbagai situasi dan apakah perilaku tersebut sampai mengganggu aktivitas serta keseharian anak.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Berikut langkah strategis yang bisa dilakukan untuk mengendalikan perilaku anak :
- Berikan batasan yang jelas, anak tetap perlu mengetahui perilaku apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sampaikan aturan dengan kalimat sederhana dan konsisten.
- Berikan kesempatan untuk bergerak, anak membutuhkan aktivitas fisik untuk
bermain, bereksplorasi, dan berkembang. Kesempatan bergerak dapat membantu anak
menyalurkan energinya sekaligus memenuhi kebutuhan perkembangannya. - Sesuaikan tuntutan dengan kemampuan anak, jika anak kesulitan duduk dalam
waktu lama, tidak berarti ia harus langsung dipaksa duduk lebih lama. Durasi dapat
disesuaikan dan ditingkatkan secara bertahap. - Berikan instruksi sederhana, daripada memberikan beberapa perintah sekaligus,
sampaikan satu instruksi terlebih dahulu. Pastikan anak memahami apa yang perlu
dilakukan sebelum memberikan instruksi berikutnya. - Apresiasi perilaku yang sesuai, ketika anak berhasil menunggu, mengikuti instruksi,
atau menyelesaikan aktivitas, berikan apresiasi yang spesifik. Misalnya:“Tadi kamu
bisa menunggu giliran. Hebat, kamu sudah berusaha mengendalikan diri.”Dengan
begitu, anak tidak hanya mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi juga belajar
memahami perilaku apa yang diharapkan darinya.
Ketika “Anak Nakal” Ternyata Membutuhkan Cara Pendekatan yang Berbeda
Dalam keseharian, tidak jarang orang tua atau guru merasa kewalahan menghadapi anak yang sangat aktif bergerak. Anak mungkin sering berpindah tempat, menyela pembicaraan, sulit menyelesaikan aktivitas, atau membutuhkan banyak pengingat. Daripada langsung memberikan label, orang dewasa dapat mulai mengamati polanya.
- Kapan perilaku tersebut muncul?
- Apakah terjadi di semua situasi atau hanya pada aktivitas tertentu?
- Apakah anak dapat mengikuti aturan ketika instruksi diberikan dengan cara yang lebih
sesuai? - Apakah perilaku tersebut mengganggu proses belajar, bermain, atau hubungan
sosialnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu orang tua melihat perilaku anak secara lebih utuh. Pada sebagian anak, kecenderungan untuk banyak bergerak memang merupakan bagian dari karakteristik dirinya. Namun, apabila kesulitan mengatur perhatian, impuls, atau perilaku terjadi secara menetap di berbagai situasi dan mulai mengganggu fungsi anak, orang tua dapat mempertimbangkan evaluasi lebih lanjut. Evaluasi bukan berarti anak akan langsung mendapatkan label atau diagnosis tertentu. Justru, evaluasi dapat membantu memahami apa yang sedang dialami anak dan dukungan seperti apa yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
Pada akhirnya, anak yang aktif bergerak tidak otomatis berarti anak nakal. Anak tetap perlu belajar aturan, batasan, dan cara mengelola perilaku. Namun, proses tersebut akan lebih membantu ketika orang dewasa memandang anak sebagai individu yang sedang belajar, bukan sebagai anak yang sudah terlanjur diberi label. Karena mungkin, yang dibutuhkan anak bukan lebih banyak teguran, melainkan kesempatan untuk bergerak, batasan yang jelas, dan cara orang dewasa memahami serta mengarahkannya dengan lebih tepat.
Sumber Referensi
Sumber Resmi
- American Academy of Pediatrics (AAP). Understanding Your Child’s Temperament: Why It’s Important.
- American Academy of Pediatrics (AAP). School Discipline.
- World Health Organization (WHO). Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children Under 5 Years of Age.
