
Ada hari ketika hal kecil bisa terasa seperti masalah besar bagi seorang anak. Seperti halnya mainan yang harus disimpan, waktu bermain yang harus berakhir, makanan yang tidak sesuai keinginannya, atau permintaan sederhana dari orang tua yang direspon dengan tangisan, teriakan, bahkan tubuh yang dijatuhkan ke lantai.
Bagi orang tua, situasi seperti ini tentu melelahkan. Apalagi jika tantrum terjadi berulang kali atau muncul di tempat umum. Tantrum sebenarnya merupakan bagian yang cukup umum dalam perkembangan anak, terutama pada masa toddler. Di usia ini, anak sedang belajar mengenali emosi, mengendalikan impuls (dorongan), menyampaikan keinginan, dan menerima bahwa tidak semua hal berjalan sesuai harapan. Karena kemampuan tersebut masih berkembang, rasa frustrasi dapat muncul dalam bentuk menangis, berteriak, menolak, atau bahkan memukul dan menendang. Namun, bukan berarti semua tantrum harus dianggap sama. Pertanyaannya bukan hanya “Seberapa sering anak tantrum?”, tetapi juga “Apa yang sedang terjadi di balik tantrum tersebut?”
Tantrum Tidak Selalu Berarti Anak Nakal
Ketika anak menangis atau berteriak setelah keinginannya tidak terpenuhi, orang dewasa mungkin langsung melihatnya sebagai perilaku menentang. Padahal, anak masih belajar mengelola emosi dan belum selalu memiliki kemampuan untuk menyampaikan rasa kecewa atau frustrasinya dengan cara yang lebih tepat. Tantrum dapat menjadi salah satu bentuk ekspresi ketika kemampuan regulasi diri anak belum mampu mengikuti besarnya emosi yang sedang dirasakan.
Pemicu tantrum pun beragam. Anak dapat lebih mudah tantrum ketika lapar, lelah, harus berpindah aktivitas, menghadapi sesuatu yang sulit, atau tidak mampu menyampaikan keinginannya. Karena itu, daripada hanya berusaha menghentikan tantrum, orang tua dapat mulai mencari tahu apa yang terjadi sebelum tantrum muncul.
Coba Kenali Polanya
Misalnya, anak hampir selalu tantrum ketika diminta berhenti bermain. Bisa jadi ia mengalami kesulitan melakukan transisi dari aktivitas yang menyenangkan ke aktivitas berikutnya. Jika tantrum lebih sering muncul ketika anak lapar atau mengantuk, kondisi fisiknya mungkin ikut memengaruhi kemampuan regulasi emosinya. Begitu pula ketika anak sering tantrum karena tidak dapat menyampaikan keinginannya. Pada anak dengan kemampuan komunikasi yang masih berkembang, frustrasi karena sulit berkomunikasi dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Dengan mengamati pola tersebut, orang tua mendapatkan informasi yang lebih berguna daripada sekadar menyimpulkan bahwa anak “suka tantrum”.
Kapan Tantrum Masih Wajar?
Tidak ada satu angka frekuensi atau durasi yang dapat menentukan bahwa tantrum seorang anak pasti normal atau bermasalah. Usia, perkembangan, situasi, intensitas, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari perlu dilihat secara keseluruhan. American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa perilaku anak perlu dipahami dalam konteks perkembangan dan karakteristik masing-masing anak.
Tantrum sendiri merupakan hal yang umum pada masa toddler dan biasanya berkurang seiring berkembangnya kemampuan anak untuk mengatur emosi dan berkomunikasi. Jadi, anak
yang sesekali menangis keras karena kecewa tidak otomatis berarti memiliki masalah perilaku. Yang perlu diperhatikan adalah pola dan dampaknya.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi?
Ayah Bunda dapat mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional apabila tantrum:
- semakin sering atau semakin sulit dikelola;
- memiliki intensitas yang sangat tinggi;
- membuat anak sangat sulit kembali tenang;
- disertai perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain;
- mengganggu aktivitas seperti tidur, makan, sekolah, bermain, atau hubungan dengan
keluarga; - muncul bersamaan dengan kekhawatiran lain mengenai komunikasi, perkembangan,
interaksi sosial, atau regulasi emosi.
Tujuan konsultasi bukan untuk langsung memberikan label pada anak. Justru, menjadi bahan evaluasi untuk membantu orang tua memahami mengapa perilaku tersebut muncul dan dukungan seperti apa yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Saat Anak Tantrum, Apa yang Bisa Dilakukan?
Ketika emosi anak sedang memuncak, tidak selalu efektif untuk langsung memberikan nasihat panjang. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah membantu anak tetap aman dan perlahan kembali tenang. Kemudian lebih jelasnya berikut ini adalah langkah yang dapat dilakukan saat anak tantrum :
- Tetap tenang, respons orang tua yang stabil dapat membantu situasi tidak semakin
- meningkat.
- Pastikan keamanan, jika anak memukul, menendang, menggigit, melempar benda,
atau membahayakan dirinya maupun orang lain, keselamatan perlu menjadi prioritas. - Gunakan kalimat sederhana, ketika emosi sedang tinggi, anak mungkin sulit
menerima penjelasan panjang. - Bicarakan setelah anak tenang, setelah situasi mereda, bantu anak mengenali apa
yang ia rasakan dan ajarkan cara lain untuk menyampaikan kebutuhan. - Antisipasi situasi yang sering menjadi pemicu, jika anak kesulitan berpindah
aktivitas, misalnya, orang tua dapat memberikan pemberitahuan terlebih dahulu
sebelum waktu bermain berakhir. Memberikan pilihan sederhana dan memperkuat
perilaku positif juga dapat membantu anak belajar merespons dengan cara yang lebih
sesuai.
Ketika Tantrum Menjadi Informasi
Dalam pendampingan anak, tidak jarang orang tua datang ke profesional dengan keluhan bahwa anak hampir selalu tantrum ketika waktunya berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Awalnya, perilaku tersebut mungkin terlihat seperti anak yang tidak mau menurut. Namun, ketika pola perilakunya diamati lebih jauh, orang tua dapat menemukan bahwa tantrum justru lebih sering muncul ketika perubahan aktivitas dilakukan secara mendadak.
Dalam situasi seperti ini, psikolog berperan untuk membantu orang tua memahami pemicu perilaku sekaligus mencari strategi yang lebih sesuai. Misalnya, memberikan warning (Misalnya,”5 Menit lagi mainnya udahan ya nak, kita mandi dulu”) sebelum aktivitas berakhir,
menggunakan instruksi sederhana, atau membantu anak mengetahui kegiatan apa yang akan dilakukan setelahnya. Pendekatan seperti ini membantu orang tua melihat bahwa tantrum bukan hanya sesuatu yang harus dihentikan, tetapi juga perilaku yang dapat memberikan informasi tentang kebutuhan dan kesulitan anak.
Sumber Referensi
Sumber Resmi
- American Academy of Pediatrics (AAP). Top Tips for Surviving Tantrums.
- American Academy of Pediatrics (AAP). Emotional Development: 2 Year Olds.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Positive Parenting Tips: Toddlers (2–3 Years Old).
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Essentials for Parenting Toddlers and Preschoolers.
